LiputanIslam.com – Pergelaran Pesta Olahraga Asia (Asian Games) ke-18 menciptakan banyak peristiwa fenomenal bagi bangsa Indonesia. Upacara pembukaan pesta ini sedemikian impresif yang menunjukkan bahwa anak-anak bangsa ini mampu bersaing di pentas dunia; mampu meraih cita-cita setinggi apapun, asal mau bekerja keras secara profesional. Pada moment upacara pembukaan itu pula kita menyaksikan dukungn gegap gempita secara spontan dan tulus dari bangsa Indonesia (yang diwakili oleh penonton) kepada kontingen Palestina saat melakukan defile. Baru kali ini ada sebuah moment resmi internasional di mana kontingen Palestina disambut secara meriah.

Peristiwa fenomenal lainnya, yang juga sangat sarat makna, adalah keberhasilan kontingen Indonesia dalam melewati target perolehan medali emas. Dengan menyisakan waktu beberapa hari lagi, para olahragawan Indonesia mampu menyabet 30 medali emas, melesat jauh melampaui target semula yaitu “cuma” 16 medali emas. Indonesia juga nyaman di tempat keempat klasemen umum perolehan medali di bawah para raksasa olahraga Asia, yaitu China, Jepang, dan Korea Selatan. Keberhasilan ini memberikan pesan yang sangat kuat terkait dengan potensi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Jika di bidang olahraga kita mampu membongkar mitos, demikian pula seharusnya bidang-bidang lainnya.

Fenomena terakhir yang sangat menarik adalah rangkulan yang dilakukan oleh Hanifan Yudani Kusumah, salah satu atlet pencak silat peraih medali emas, terhadap dua tokoh politik ternama saat ini: Jokowi dan Prabowo. Seusai dinyatakan menang atas rivalnya Thai Linh Nguyen (Vietnam) pada kelas C (55-60 kg), Hanifan berlari menuju tribun kehormatan. Setelah menyalami dan memeluk para tokoh nasional, Hanifan melangkah menuju Jokowi dan Prabowo yang duduk berdampingan. Setelah menyalami keduanya, Hanifan, dengan bendera Merah Putih di bahunya, merangkul Jokowi dan Prabowo secara bersamaan. Ketiganya terlihat berpelukan, diselubungi oleh Sang Saka Merah Putih.

Saat diwawancarai oleh media terkait dengan moment perangkulannya itu, Hanifan menyatakan beberapa hal yang cukup menarik. Pertama, dia menyatakan bahwa dirinya menyaksikan betapa di antara sesama anak bangsa di saat ini telah muncul perpecahan dikarenakan polarisasi kepentingan politik. Kedua, fenomena ini menurutnya sangat menyakitkan. Dan yang ketiga, Hanifan mengemukakan filosofi olahraga, yang menyatakan bahwa rivalitas apapun dalam kehidupan harus berlangsung secara fair dan sportif. Di luar gelanggang, para olahragawan yang bertarung pun harus kembali menjadi sahabat. Menurutnya, itu pula yang seharusnya dilakukan oleh bangsa Indonesia saat bertarung di gelanggang politik.

Apa yang disampaikan oleh Hanifan ini sebenarnya adalah suara hati seluruh anak bangsa. Mereka menyaksikan betapa pertarungan politik belakangan ini sudah sedemikian jauh melampaui batas-batas yang bisa diterima oleh nurani dan budaya bangsa Indonesia. Diksi-diksi kebencian dan perang, disertai dengan informasi-informasi hoax sudah bukan lagi bumbu-bumbu dari sebuah pesta demokrasi. Perang tentu saja sangat jauh berbeda dengan pesta.

Perpecahan dan perseteruan adalah hal yang dibenci. Sebaliknya, persatuan dan kebersamaan adalah kenikmatan dan anugerah.  Dulu, di zaman Rasulullah SAW masih hidup, para sahabat Nabi hampir saja terprovokasi oleh tokoh munafik bernama Abdullah bin Ubay. Dia yang berprofesi sebagai pedagang senjata memprovokasi kaum Muslimin dengan menyebut-nyebut peperangan yang pernah terjadi di antara mereka, yang menewaskan sanak keluarga mereka masing-masing. Hampir-hampir saja terjadi pertumpahan darah. Lalu turunlah ayat yang menekankan pentingnya persatuan. Kaum Muslimin juga diingatkan tentang sangat getirnya perpecahan dan perseteruan dengan sesama.

“Berpeganglah kalian semuanya kepada tali  Allah, dan janganlah bercerai berai. Ingatlah akan nikmat Allah, ketika kalian dahulu  bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian. Lalu, karena nikmat Allah itu, kalian pun menjadi bersaudara.  Kalian saat itu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian”. (Ali Imran: 103)

Suara Hanifan adalah suara hati anak bangsa. Pelukan Hanifan adalah pelukan kerinduan akan indahnya kebersamaan di bawah selubung Sang Saka. Medali emas Hanifan memberikan pesan bahwa dengan bekerja keras dan bersatu, kita akan mampu meraih impian setinggi apapun. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*