LiputanIslam.com –Ramadhan telah berlalu. Dikatakan bahwa Ramadhan adalah bulan ampunan. Allah menjanjikan ampunan bagi siapa saja berpuasa dengan benar, serta meniatkan puasanya di bulan itu sebagai wasilah untuk menggugurkan dosa-dosa. Janji Allah tersebut tentu tak lepas dari sifat Allah sebagai Zat yang Maha penerima taubat (tawwab).

Hanya saja, konsep dan janji itu seringkali disalahpahami dan disalahgunakan oleh orang-orang pandir yang enggan memahami ajaran Islam secara komprehensif. Konsep Ramadhan sebagai bulan ampunan tentu tak boleh dilepaskan dari prinsip-prinsip taubat itu sendiri. Janji Allah itu tak bisa difahami sebagai pemberian amnesti secara sporadis, tanpa memperhatikan syarat dan ketentuan pertaubatan.

Di dalam Islam, taubat seorang pendosa hanya akan bisa diterima dengan syarat: (1) menghentikan perbuatan dosanya, (2) menyesal secara tulus, serta (3) berjanji sepenuh hati untuk tidak mengulangi perbuatan dosanya itu. Kemudian, ada syarat tambahan jika dosa yang dilakukan berhubungan dengan pelannggaran atas haqqun-nas, yaitu mengembalikan hak kepada pemiliknya.

Jika dosa itu, misalnya, adalah pencurian, maka syarat diterimanya taubat atas dosa pencurian itu adalah mengembalikan barang yang ia curi kepada pemiliknya. Kalau pencuriannya berupa korupsi, ia harus mengembalikan uangnya kepada negara dan rakyat, sambil meminta maaf secara tulus kepada seluruh rakyat atas perilaku korupsinya itu.

Kalau dosanya itu berupa ghibah, hoax, dan fitnah yang telah menciptakan kerugian pada harta, harga diri, kehormatan, dan atau nyawa orang lain, maka taubat hanya akan diterima Allah jika ia mengembalikan harta, kehormatan, dan nyawa orang lain itu.

Syarat seperti inilah yang menyebabkan dosa sosial-politik hampir mustahil untuk ditaubati. Kita melihat, bagaimana fitnah dan hoax berseliweran selama masa-masa kampanye berbagai even pemilu. Ada banyak pihak yang memperoleh keuntungan sosial-politik, bahkan keuntungan ekonomi, dari fitnah dan hoax tersebut. Artinya, di sisi lain, ada banyak orang yang menjadi korban.

Bahkan, kalau kita perhatikan dengan seksama, perilaku dosa sosial-politik itu juga memakan korban secara tak langsung. Ada suami istri yang bercerai gara-gara berbeda pilihan politik. Ada juga silaturahim yang terputus gara-gara perbedaan tersebut. Gara-gara kemunculan faktor fitnah dan hoax itulah perbedaan pandangan politik yang mestinya “biasa-biasa” saja itu berubah menjadi mantra sihir yang memporak-porandakan ikatan silaturahim.

Dari sisi ini, korban dari dosa sosial-politik itu jumlahnya menjadi sangat fantastis. Semua itu akan menjadi beban si pembuat dosa. Ia harus meminta maaf seraya memperbaiki kerusakan yang telah ia timbulkan akibat perilaku dosanya itu.

Sekali lagi, adalah salah jika ada asumsi bahwa dosa-dosa seperti itu bisa dengan mudahnya ditaubati cukup dengan berpuasa di bulan suci Ramadhan. Dosa-dosa tersebut akan menjadi beban selamanya hingga kita semua akan diadili di Yaumil Mahsyar nanti.

Saat ini, Idul Fitri yang kita rayakan ditandai dengan meredanya ketegangan sosial-politik. Akan tetapi, kita tetap harus bersikap waspada. Dan yang lebih penting lagi, di hari raya fitri ini, mestinya kita merenungkan kembali apa yang sudah kita alami di masa-masa ketegangan sosial-politik dalam beberapa tahun terakhir ini.  Betapa sangat mahalnya ongkos sosial yang harus dibayarkan, dan betapa beratnya beban dosa yang harus kita pikul hingga hari kiamat nanti gara-gara kita menyepelekan dosa-dosa sosial-politik; dosa-dosa yang rasanya hampir mustahil untuk kita kubur begitu saja. (os/editorial/liputanislam)

Terkait:

Ironisme Idul Fitri

Back to Fitrah

Idul Fitri, Ayatullah Khamenei Tegaskan Kesolidan Iran Melawan Imperialis Dunia

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*