LiputanIslam.com –Palestina terus bergolak. Barangkali perhatian terhadap nasib bangsa ini memang memudar. Krisis di Suriah, Irak, Lebanon, Yaman, dan juga berbagai perkembangan politik di Tanah Air Indonesia, boleh jadi lebih menyedot perhatian kaum Muslimin Indonesia. Akan tetapi, berbagai krisis dan berita hangat dari berbagai belahan penjuru dunia itu sejatinya tak layak membuat perhatian kita terhadap perjuangan bangsa Palestina menjadi teralihkan.

Bagaimanapun juga, di Tanah Palestina, terjadi krisis kemanusiaan paling tragis di era modern ini. Ketika era imperialisme fisik dinyatakan berakhir, dan bangsa-bangsa di dunia menjadi merdeka, justru di salah satu jantung sejarah peradaban dunia, praktik penjajahan itu baru saja dimulai, dan terus berlangsung hingga sekarang. Ketika bangsa Indonesia baru saja menyatakan diri merdeka di tahun 1945, tiga tahun berselang (tahun 1948) negara Israel dinyatakan berdiri di atas kawasan Palestina.

Praktik-praktik penjajahan fisik berupa pengusiran, perampasan tanah, pemenjaraan, dan pembunuhan terus berlangsung setiap hari. Lebih dari lima juta warga Palestina saat ini terlunta-lunta di berbagai negara sebagai pengungsi. Ratusan ribu hektar tanah dirampas, ribuan orang dipenjara, ribuan rumah dibombardir, orang-orang dibunuh, dan para pejuangnya disebut teroris. Persis seperti praktik-praktik penjajahan fisik dahulu.

Sejak dideklarasikannya negara ilegal Israel, kawasan Palestina selalu bergolak, dan memang akan selalu bergolak, sebagaimana pergolakan selama ratusan tahun yang terjadi di negara-negara jajahan semasa era kolonialisme. Tepi Barat dan Jalur Gaza, dua kawasan yang masih dihuni oleh bangsa Palestina selalu mengisahkan cerita-cerita perjuangan dengan beragam cara.

Di Tepi Barat, Warga Palestina melancarkan aksi mogok umum sejak Ahad lalu, menyusul pembunuhan seorang warga Palestina bernama Masalmeh. Toko-toko dan sekolah dikabarkan ditutup di sebagian besar wilayah Tepi Barat setelah gerakan Fatah, Presiden Palestina Mahmoud Abbas, dan beberapa kelompok Palestina lainnya menyerukan aksi mogok. Sedangkan di Jalur Gaza, aksi-aksi protes terus berlangsung, menyusul gugur syahidnya Fahd Mohammaed Walid as-Astal, seorang remaja 16 tahun. Aksi di Gaza ini merupakan bagian tak terpisahkan dari gerakan perjuangan kelompok HAMAS, Jihad Islami, dan berbagai kelompok perjuangan lainnya.

HAMAS menyatakan bahwa bangsa Palestina semuanya solid dan punya cita-cita yang sama, yaitu meraih cita-cita kemerdekaan dari penjajahan Zionis Israel. Menurut HAMAS, adalah menjadi hak bangsa Palestina untuk berjuang dengan segala cara yang sah, termasuk mengangkat senjata, demi mempertahankan tanah airnya dan melawan pendudukan Rezim Zionis Israel. Perjuangan tak akan pernah padam seiring dengan meningkatnya eskalasi pasukan pendudukan Zionis dan upaya permukiman Yahudi dalam bingkai kejahatan penjajahan mereka. Berbagai tekanan, penindasan, dan juga upaya untuk memberikan stigma buruk terhadap perjuangan bangsa Palestina tak akan pernah memadamkan api perjuangan.

Kita sebagai bangsa Indonesia serta orang yang beriman tentunya percaya bahwa apa yang dilakukan oleh saudara-saudara kita di Palestina itu adalah sah, dan sesuai dengan cita-cita dan amanat UUD 1945. Apa yang mereka lakukan persis sama dengan apa yang telah dilakukan oleh para pahlawan bangsa kita.

Kita percaya bahwa bangsa Palestina berhak mempertahakankan diri dan merebut kemerdekaan dengan cara apa saja, sebagaimana kita juga yakin tentang kebenaran perjuangan para pahlawan kemerdekaan bangsa Indonesia dahulu. Kita juga percaya bahwa cita-cita perjuangan bangsa Palestina pasti akan tercapai, sebagaimana bangsa kita juga pada akhirnya berhasil merebut kemerdekaan. Waktu tak jadi soal. Kapanpun itu bisa terjadi. Masalahnya, kita selama ini berada di pihak yang mana? os/editorial/liputanislam

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*