LiputanIslam.com –Ujung dari isu ketegangan antara Iran dan AS semakin tidak jelas.  Intonasi Presiden Trump terkait dengan Iran tidak segagah beberapa waktu sebelumnya. Jika sebelumnya Trump mengatakan bahwa ia ingin ‘menghabisi’ Negeri Kaum Mullah ini tanpa kompromi, kini Trump malah menitipkan sebuah nomor telepon, dengan harapan otoritas Teheran mau menghubunginya melalui nomor telepon tersebut. Presiden Trump malah membuka opsi perundingan.

Jika kita menengok sejarah perseteruan AS dan Iran, sebenarnya apa yang saat ini sedang dipertontonkan oleh AS bukanlah gestur politik internasional yang baru. Terakhir kali AS terlibat perseteruan secara langsung dan frontal dengan Iran adalah di masa awal-awal revolusi (April 1980) ketika Iran masih sangat lemah. Saat itu, AS berupaya membebaskan para pegawai kedutaannya yang disandera oleh para mahasiswa aktivis revolusi. AS mengirimkan pesawat dan helikopter militernya memasuki wilayah Iran. Operasi yang diberi sandi Operasi Cakar Elang (Operation Eagle Claw) itu berakhir dengan kegagalan.

Setelah peristiwa itu, konfrontasi militer AS dengan Iran dilakukan dengan meminjam “tangan” negara lain. Di masa Perang Teluk Jilid I, ketika Iran dan Irak berperang selama delapan tahun (1980-1988), AS memberikan bantuan militer sepenuhnya kepada Irak.

Kedua peristiwa konflik militer tersebut terjadi di tahun-tahun awal revolusi. Setelahnya, kita tidak mendapati lagi ada konflik militer (baik langsung ataupun tidak langsung) antara kedua negara. Konflik yang ada, paling berupa sanksi atau embargo ekonomi. Selebihnya, hanya berupa ancaman dan gertakan.

Barangkali, militer AS sebenarnya memanglah tidaklah setangguh dan seheroik para pahlawan mereka di film-film Hollywood. Berkonfrontasi secara langsung melawan Iran bisa dikatakan merupakan opsi paling jauh yang sebenarnya tidak pernah mereka taruh di atas meja.

Bahkan, sebenarnya, AS tak pernah berani terlibat konflik secara langsung dengan negara manapun, jika negara tersebut memiliki ketahanan militer yang cukup. Masalahnya sederhana. Perang pasti menyedot biaya dan akan membuat limbung keuangan negara. Akibatnya, cadangan devisa akan berkurang dan bursa saham akan rontok. Maka, diprediksi akan terjadi resesi ekonomi yang hebat di dalam negeri. Makin kuat militer negara yang dihadapi, makin besar resiko resesi ekonomi yang akan terjadi. Rakyat AS tentu tak mau bahwa penaklukan militer yang dilakukan atas sebuah negara asing harus ditebus dengan resesi ekonomi.

Perhatikanlah, bagaimana AS hanya mau terlibat konflik secara langsung dengan Afghanistan (2002) dan Irak (2003) yang sudah porak poranda. Afghanistan di bawah Taleban saat itu sangat lemah karena didera konflik internal yang berkepanjangan. Sedangkan Irak di bawah kepemimpinan Saddam Hossein saat itu diinvasi setelah dikenai sanksi ekonomi super berat sejak keterlibatan Baghdad dalam Perang Teluk Jilid II. Dalam prosesnya, invasi ke kedua negara itupun melibatkan negara-negara lainnya. Serbuan AS selalu disertai dengan pasukan koalisi dari negara-negara.

Lihatlah pula yang terjadi di Libya, Suriah, dan Yaman. AS terlibat konflik tidak secara langsung di ketiga kawasan tersebut. Di Libya, AS berhasil menggalang kekuatan NATO serta anasir Al-Qaeda. Di Suriah, perang yang digelar AS meminjam tangan para jihadis palsu FSA, ISIS, dan Jabhah Al-Nusra. Di Yaman, tangan AS memang berlumuran darah. Tapi, lagi-lagi, yang bertempur di lapangan adalah para tentara Arab Saudi.

Adapun ketika harus menghadapi Iran dan negara-negara lainnya yang memiliki militer relatif stabil dan cukup kuat, yang dilakukan AS tak lebih dari sebatas perang psikologi; istilahnya gertak sambal. Hal inilah yang sepertinya difahami betul oleh otoritas Teheran. Karena itu, menghadapi berbagai manuver politik AS, Iran tak bergeming.  Gertakan dibalas dengan gertakan. Pengiriman kapal perang AS ke Teluk dibalas dengan latihan militer dan ancaman penutupan Selat Hormuz yang sangat strategis.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa kali ini situasinya berbeda. Karena yang menjadi presiden adalah Donald Trump yang dikenal urakan dan ‘nekad’, AS bisa saja mengambil keputusan yang mengejutkan. Sebagai sebuah analisis, kemungkinan ini tentu sah-sah saja. Hanya saja, jika hal itu betul-betul terjadi, kita juga sangat mungkin menyaksikan konsekwensi logisnya bagi AS, di mana negara itu akan mengalami krisis ekonomi terhebat sepanjang sejarah. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*