LiputanIslam.com – Politik itu kotor. Adagium itu bisa benar saat kita menyaksikan bagaimana bencana gempa bumi yang menimpa saudara-sudara kita di Lombok menjadi konsumsi politik dalam bingkai klaim-klaim agama. Di media sosial, bertebaran aneka narasi serangan politik kepada Gubernur NTB Zainul Majdi (Tuan Guru Bajang –TGB) yang mengatakan bahwa gempa yang menimpa Lombok merupakan azab dari Tuhan akibat pergeseran orientasi politik TGB. Gara-gara TGB mendukung Jokowi, Allah menurunkan bencananya kepada penduduk Lombok. Sungguh sebuah perilaku politik yang kotor, ketika agama dan religiusitas bangsa Indonesia disalahgunakan untuk kepentingan politik yang sangat rendah.

Sebagai masyarakat yang beragama, bangsa Indonesia memang biasanya langsung menghubungkan peristiwa bencana alam dalam kerangka berpikir teologis. Setiap kali terjadi bencana alam, agama sering dibawa-bawa. Untuk setiap bencana yang cukup massif, nama Tuhan disertakan dalam doa dan harapan. Klarifikasi teologis pun dikemukakan.

Teks-teks agama, khususnya agama Islam, memang sangat banyak berbicara tentang hubungan antara perilaku individual manusia dengan turunnya bencana. Ada teks agama yang secara jelas menyatakan bahwa bencana muncul sebagai hukuman Tuhan kepada perilaku dosa dan maksiat manusia. Inilah yang terjadi pada ummat-ummat terdahulu seperti kaum Madyan, yaitu kaum Nabi Syu’aib a.s. (Al-A’raf: 91), atau kaum Nabi Nuh a.s. (Al-Ankabut: 14). Model hubungan “dosa-bencana” ini adalah hal yang diterima secara luas oleh kaum Muslimin. Para ulama pun sudah banyak menjelaskan hubungan di antara keduanya.

Hanya saja, harus diingat bahwa sebuah bencana akan menjadi azab manakala di sana terjadi pertarungan antara pihak yang 100% benar melawan pihak yang 100% salah. Pertarungan itu sudah sampai pada titik, di mana tak ada harapan lagi bagi pihak kebenaran untuk mengajak pihak yang salah agar mereka mengikuti jalan kebenaran.  Lalu, karena tidak ada cara lain bagi Allah untuk memenangkan pihak yang benar, diturunkanlah azab kepada kaum pembangkang itu. Itulah yang terjadi pada ummat-ummat terdahulu.

Dari sisi ini, ada minimalnya tiga point penting. Pertama, azab turun dalam konteks sebuah pertarungan. Dari sisi ini, menjadi absurd manakala kita menyebut bencana gempa di Lombok adalah azab.  Kontestasi pilpres adalah rivalitas politik dalam bingkai fastabiqul khairat, berlomba-lomba menunjukkan diri lebih baik dan lebih layak dibandingkan pihak lain; bukan sebuah pertarungan/peperangan untuk saling menihilkan.

Kedua, azab turun untuk menyudahi pertarungan yang terjadi antara dua pihak yang benar secara mutlak melawan pihak yang salah secara mutlak. Apakah dalam kontestansi pilpres itu kubu Jokowi adalah pihak yang kotor dan jahat, sedangkan kubu Prabowo adalah manusia-manusia yang suci dan sedang berjuang menegakkan ajaran agama yang suci? Apakah kehidupan pihak Jokowi itu bergelimang dengan kebejatan, mempertontonkan kekerasan, menyebarkan perzinaan, perjudian, dan pornografi, sedangkan  pihak Prabowo adalah orang-orang yang berpikiran bersih, berkata mulia, dan berperilaku yang benar?

Kemudian, yang ketiga, azab turun ketika terjadi dead-lock dalam dakwah. Artinya, sudah banyak sekali dilakukan seruan dan upaya untuk mengajak orang-orang jahat itu agar kembali ke jalan yang benar, tapi sudah bisa dipastikan bahwa seruan itu sia-sia belaka. Lihatlah Nabi Nuh a.s. Ratusan tahun lamanya beliau berpayah-payah mengajak dan mengingatkan kaumnya. Ketika sudah tak ada lagi harapan, barulah Nabi Nuh a.s. memohon kepada Allah agar kaumnya itu mendapat azab. Jangan pula dilupakan bahwa Nabi Nuh a.s. juga mengingatkan kaumnya akan datangnya azab itu, yang dihubungkan dengan perilaku buruk mereka. Nabi Nuh a.s. bahkan menyebut secara jelas bentuk azabnya, yaitu berupa banjir besar; dan karena itulah ia membuat kapal di tengah gurun sahara.

Sekarang, lihatlah kasus gempa di Lombok. Seandainyapun bisa dibuktikan bahwa Jokowi adalah pihak yang jahat, apakah kejahatan pihak Jokowi sudah sampai pada tahap yang tidak mungkin diperbaiki lagi? Juga, yang sangat penting, apakah pihak-pihak yang menyerang Jokowi dan TGB itu pernah menyebutkan secara jelas terkait dengan bentuk azab yang akan terjadi? Apakah mereka sebelumnya pernah menyatakan bahwa siapapun yang mendukung Jokowi maka pasti akan ditimpa bencana gempa?

Tidak. Mereka tidak pernah menyebutkannya. Mereka hanya melakukan “cocokologi” dengan cara yang sama sekali tidak etis dan tidak bertanggung jawab. Sungguh, sangat disayangkan bahwa demi kepentingan politik yang sesaat dan rendah, mereka menyalahgunakan teks dan ajaran agama yang suci. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*