LiputanIslam.com – Berbagai media dunia memberitakan bahwa Presiden AS Donald Trump telah meminta negara-negara Arab, khususnya Arab Saudi, untuk terlibat secara lebih dalam lagi terkait dengan perang melawan Suriah. Awalnya, Trump mengatakan bahwa jika Arab Saudi masih menghendaki AS tetap berada di Timur Tengah, seluruh biaya perangnya harus ditanggung langsung oleh Arab Saudi. Jika Arab Saudi enggan, Trump mengancam akan menarik pasukannya dari kawasan Timur Tengah.

Tak lama kemudian, Trump secara terbuka meminta Arab Saud, untuk terlibat langsung dalam perang melawan Suriah. Model keterlibatan yang diharapkan oleh Trump mungkin seperti apa yang dilakukan Arab Saudi terhadap Yaman. Dengan persenjataan yang lengkap, canggih, serta letak geografis yang dekat, Arab Saudi diharapkan akan bisa meluluhlantakkan Suriah dalam waktu singkat, yang kemudian berdampak kepada jatuhnya Bashar Assad.

Trump beralasan bahwa logistik yang sudah dikeluarkan oleh AS dalam perang melawan Suriah ini sudah sangat besar, yaitu 7 Trilyun Dollar (Sekitar Rp 90.000 Triliun).  Angka ini merujuk kepada dana yang dikeluarkan AS untuk menyuplai senjata/logistik milisi pemberontak berikut bantuan kepada lembaga bantuan kemanusiaan White Helmets serta media-media pembentuk opini publik (Seperti Syrian Observatory for Human Rights, SOHR), yang ternyata juga dibiayai oleh konsorsium pimpinan AS. Biaya itu juga termasuk dengan serangan-serangan langsung rudal AS dengan sasaran sejumlah kawasan yang diklaim sebagai pabrik senjata kimia milik Suriah, yang ternyata berongkos sangat besar.

Angka ini tentu saja sudah sangat menggerus perekonomian nasional AS. Sementara itu, di sisi lain, perang di Suriah tak juga menunjukkan hasil yang diharapkan oleh AS. Sebaliknya, pemerintah Suriah yang dibantu Rusia, Iran, dan Hezbollah Lebanon terus berada di atas angin, dengan keberhasilannya mengusir dan mengisolasi milisi-milisi pemberontak.

Opini publik dunia juga semakin berubah. Seiring dengan pembebasan sejumlah kawasan oleh tentara Suriah, berbagai video dirilis oleh pemerintah Suriah serta banyak media-media dunia lainnya, yang menunjukkan situasi sebenarnya di medan perang. Berbagai kebohongan yang selama ini dialamatkan kepada rezim Assad (yang menjadi pre-text perang atas Suriah), terkait dengan “kekejaman” Assad atas rakyatnya sendiri, semakin terungkap.

Perang Suriah ternyata bukan hanya menghancurkan bangsa Suriah, melainkan juga menimpakan kerugian sangat besar kepada para pemicunya. Trump secara terbuka sudah menyebut angka kerugian yang diderita AS. “Kerugian” juga dipastikan diderita oleh negara-negara sponsor perang seperti negara-negara Eropa, negara-negara Arab Teluk, serta Turki. Kini, AS meminta agar Arab Saudi ke depannya menutupi potensi kerugian yang akan ditimbulkan jika perang harus terus dilanjutkan.

Hanya saja, permintaan ini sepertinya tidak realistis. Arab Saudi sendiri selama ini sudah menggelontorkan dana yang tidak main-main untuk membiayai perang, sehingga perekonomian nasional negara itu juga ikut terguncang. Dengan demikian, permintaan Trump itu lebih menunjukkan rasa frustasi atas masa depan petualangan perang mereka di Suriah, ketimbang menunjukkan sebuah solusi atas situasi yang ada. Sepertinya, AS sedang menuai badai atas angin yang sudah mereka tabur. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*