stop fitnahBulan Ramadan adalah bulan untuk menahan diri. Yang umum dipahami publik, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan hubungan biologis. Namun, secara moral, ada banyak hal lain yang harus ditahan, antara lain menahan lidah agar tak menyakiti hati orang lain, meng-ghibah, apalagi memfitnah. Sungguh ironis bila ada orang yang berpayah-payah menahan haus dan dahaga, melakukan berbagai ritual, namun di saat yang sama lidahnya menghamburkan kata-kata yang malah membakar habis pahala semua ibadahnya.

Secara tegas Rasulullah SAW bersabda, “Apakah (ada) yang menyebabkan seseorang terjerembab di neraka di atas wajah (atau hidung mereka) kecuali disebabkan oleh tindakan lisan mereka’?” (HR. Al-Tirmidzi)

Sayangnya, bulan Ramadan tahun 1436 H (2015M) ini kembali dinodai oleh aksi-aksi fitnah yang dilancarkan kelompok takfiri. Seseorang yang mengklaim diri sebagai ‘mantan dai Syiah’ mengaku disiksa oleh 4 orang Syiah. Setiap tindak kekerasan seharusnya dilaporan kepada polisi untuk diusut. Pelakunya harus ditangkap dan diadili. Namun, dalam kasus ini, polisi belum dilibatkan. Yang terjadi malah penyebaran berita bernada provokasi secara masif di media sosial. Seruan jihad dan pembunuhan terhadap umat Syiah disebarluaskan. Hal ini tentu saja sangat berbahaya. Konflik horisontal di tengah masyarakat, apalagi melibatkan senjata dan pembunuhan, sangat berpotensi menimbulkan chaos.

Suatu berita yang hanya berdasarkan pengakuan satu orang, tanpa saksi, tanpa ada penyidikan, lalu melemparkan tuduhan dan ancaman pada kelompok tertentu, jelas menjurus pada perilaku fitnah. Apalagi menurut penelusuran beberapa orang, oknum yang mengaku dianiaya itu ternyata memiliki track record melakukan berbagai penipuan. Sungguh menyedihkan kasus seperti ini terjadi di bulan Ramadan.

Lidah, di era digital ini digantikan oleh jari-jemari yang mengetik di layar hape atau laptop. Fitnah disebarkan dengan cara klik share. Ada resep dari Rasulullah SAW bagi kepada kita untuk mentarbiyah lidah ini. “Berkatalah yang baik, jika tidak bisa maka lebih baik diam.” Di era digital, resep ini setara dengan “jangan asal klik share”. (Editorial/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL