tembakEksekusi itu akhirnya dilaksanakan. Enam orang terpidana kasus peredaran barang haram narkoba dieksekusi mati. Eksekusi sebenarnya hanyalah pelaksaan hukuman. Vonisnya sendiri sudah lama dijatuhkan. Setelah menunggu waktu yang cukup lama, hukumannya baru dilaksanakan. Masih ada beberapa terpidana mati lainnya yang menunggu giliran.

Seperti biasa, sejumlah pihak yang mengatasnamakan pembela Hak Asasi Manusia (HAM) menunjukkan resistensinya. Bukan hanya LSM-LSM yang berafiliasi dengan ke lembaga-lembaga dunia, bahkan perwakilan resmi sejumlah pemerintahan Barat secara terang-terangan sempat meminta pemerintah Indonesia mengurungkan eksekusi mati tersebut. Nyatanya, pemerintah tetap menjalankan keputusannya itu.

Tidak ada keributan yang muncul menyertai eksekusi; tidak seperti eksekusi Fabianus Tibo, Marinus Riwu, dan Dominggus da Silva pada tahun 2006. Eksekusi terhadap ketiga terpidana mati kasus kerusuhan Poso tersebut sempat memicu kemarahan pendukung Tibo cs. Atambua, NTT yang menjadi tempat kelahiran Tibo sempat rusuh.

Menyusul kerusuhan tersebut, polemik laten soal hukuman mati pun mengemuka. Perdebatan masih seputar hal yang “itu-itu saja”, yaitu terkait layakkah hukuman mati diberlakukan? Uniknya, meskipun ditandai dengan adanya kerusuhan panas, pendapat masyarakat Indonesia soal hukuman mati tetap sama: mayoritas setuju dengan pemberlakuan hukuman mati. Lewat jajak pendapat yang dilakukan sebuah media, diketahui bahwa 77,3 % masyarakat Indonesia setuju terhadap hukuman mati. Sisanya menyatakan tidak setuju.

Sebulan yang lalu, sebuah televisi nasional menayangkan acara talk show dengan tema “Memutus Nyawa”. Di awal acara, diadakan polling terkait pemberlakuan hukuman mati di Indonesia. Peserta polling adalah para penonton yang hadir. Hasinya, 76 % setuju dan 24 % menolak. Lalu, dalam talk show itu para nara sumber (yang pro dan yang kontra hukuman mati) saling berdebat, dan mengemukakan argumen masing-masing. Kemudian, di akhir acara, polling dengan pertanyaan sama kembali diajukan kepada penonton yang sama. Hasilnya, dukungan terhadap hukuman mati meningkat menjadi 83%.

Tingginya jumlah dukungan terhadap pemberlakukan hukuman mati itu mungkin saja disebabkan mayoritas bangsa Indonesia adalah pemeluk agama Islam. Sebagaimana diketahui, syariat Islam memang mengakui hukuman mati (i’dam) sebagai salah satu instrumen penegakan hukum dan keadilan. Para ulama juga sudah banyak mengupas falsafah hukuman mati ini sebagaimana yang tercantum di dalam teks-teks agama.

Intinya, ada beberapa perilaku kejahatan yang sangat berat, sehingga jika dibiarkan tetap hidup, kejahatan itu akan menimbulkan kerusakan yang jauh massif dan sistemik di dalam kehidupan masyarakat. Pelaku kejahatan yang layak dihukum mati itu seperti tumor yang harus dibunuh; atau seperti anggota tubuh yang membusuk hingga harus diamputasi. Amputasi memang kejam. Tapi itu harus dilakukan demi keberlangsungan kehidupan masyarakat lainnya.

Dengan asosiasi seperti ini, hukuman mati justru malah diperlukan demi sebuah kehidupan. Persis seperti yang digambarkan oleh Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 127: “Sungguh pada qishash itu terdapat kehidupan, wahai kaum cendekia. Mudah-mudahan kalian bertakwa.”

Hukuman mati sudah dilaksanakan. Kita ucapkan selamat kepada pemerintah yang mampu menjalankannya secara bermartabat. (editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*