pemiluBangsa Indonesia sedang menghitung hari hingga pelaksanaan pemilu. Ruang publik dipenuhi perbincangan mengenai pesta demokrasi ini. Setiap kegiatan dan manuver partai-partai peserta pemilu mendapatkan porsi pemberitaan sangat besar. Apalagi jika manuver partai itu terkait dengan calon presiden, pemberitaannya pastilah menjadi yang paling besar.

Lihatlah ketika Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa dirinya telah diberi mandat oleh Megawati untuk menjadi capres, berbagai media berlomba-lomba menjadikan momen ini sebagai breaking news. . Angle berita berbagai media sangat beragam, bergantung kepentingan pemilik media. Televisi pro-Jokowi memberitakannya dengan sangat positif. Sebaliknya, televisi milik capres pesaing Jokowi, memberitakan berbagai kekurangannya. Yang menyedihkan, sebagian media Islam malah menggunakan idiom-idiom Islam (kafir, sesat, Syiah, dan sejenisnya) untuk menjatuhkan Jokowi. Sikap seperti ini justru menjadikan Muslim semakin rendah karena menunjukkan seolah kaum Muslim kalau tak mampu berargumen, akan menggunakan strategi pembunuhan karakter.

Perdebatan yang terjadi akhir-akhir ini, memang lebih bersifat eforia. Benak masyarakat disibukkan oleh penantian untuk segera tahu siapa yang akan menjadi presiden baru Indonesia, siapa saja para menterinya, partai mana yang menjadi pemenang pemilu, berapa persen perolehannya, partai mana yang tereliminasi akibat gagal melewati ambang parliamentary treshold, dan berbagai pertanyaan artifisial lainnya. Adapun hal-hal yang bersifat substansial, yaitu masalah nasib bangsa, sejenak terlupakan. Seakan ada tangan tak terlihat yang memisahkan kedua hal ini. Padahal, sejatinya, pemilu tiada lain adalah ikhtiar dalam rangka memperbaiki bangsa ini.

Perhatikan masalah calon presiden. Selain Jokowi, nama-nama lain sudah banyak beredar seperti Prabowo, Aburizal Bakri, Mahfudh MD, Rhoma Irama, Suryadharma Ali, para calon konvensi Partai Demokrat, hingga para calon hasil pilihan raya PKS. Yang disibukkan publik hanya ‘siapa’ dan ‘dari mana’ capres kita. Sebagian besar kita terlihat tidak begitu peduli bahwa para capres yang digadang-digadang itu, kelak ketika terpilih sebagai presiden, akan berhadapan dengan tugas dan tanggung jawab yang mahaberat. Berdasarkan konstitusi, presiden Indonesia adalah panglima tertinggi yang berkuasa atas tentara, berhak mengumumkan perang dan damai, memberikan grasi, amnesti, dan abolisi, menyusun undang-undang, menerbitkan kepres, mengajukan calon hakim di MK, serta tugas-tugas berat lainnya.

Selain tugas-tugas formal tadi, seorang presiden juga memiliki tanggung jawab sebagai penjaga kepentingan bangsa di tengah-tengah tarik-menarik kepentingan nasional bangsa-bangsa di dunia. Seorang presiden akan melakukan pertemuan diplomatik dengan para pemimpin negara lainnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dari pertemuan diplomatik yang terkadang bersifat rahasia itu, lahir kesepakatan-kesepakatan yang menentukan nasib bangsa. Itulah yang dalam literatur ilmu politik disebut sebagai black box, sulit dipastikan apa yang sebenarnya terjadi, hanya bisa dianalisis atau dikira-kira. Perlu kecerdasan tinggi, ketangguhan, dan keberanian besar dari sang presiden dalam bernegosiasi demi kepentingan nasional.

Belum lagi kita memasukkan manuver negara-negara besar dunia, khususnya Amerika, yang tak pernah berhenti melancarkan operasi intelejen-ekonomi yang dikenal dengan EHM (economic hit man). Berdasarkan pengakuan John Perkins, seorang mantan EHM, kelompok ini pasti akan mendatangi setiap pemimpin negara. Mereka akan melancarkan lobi-lobi, tekanan, ancaman, hingga aksi pembunuhan bila sang presiden menolak bekerja sama.

Karena pemilu adalah pesta demokrasi, eforia jelas tidak dilarang. Apalagi sampai batas-batas tertentu, situasi ini menjadi katarsis atas kesumpekan yang menghimpit. Hanya saja, jika energi dan konsentrasi pemilu tersedot kepada hal-hal artifisial tersebut, demokrasi tidak akan memerankan fungsi yang sebenarnya. Inilah rupanya yang membuat reformasi politik Indonesia yang sudah berlangsung 16 tahun ini belum memberikan buah manisnya kepada bangsa Indonesia.(Editorial/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL