LiputanIslam.com – Indonesia kembali dilanda duka. Gempa bumi dan dan tsunami mengguncang bumi Sulawesi, tepatnya di kota Donggala dan Palu. Ratusan orang tewas, dan air mata kesedihan pun tumpah.

Bencana adalah duka. Tapi sebagai ummat beragama, kita pun percaya bahwa itu semua adalah bagian dari kehendak yang Mahakuasa, Allah SWT; sebuah mekanisme alam yang menjadi ajang ujian bagi manusia. Ini adalah ujian bagi mereka tertimpa bencana, dan juga ujian bagi kita yang tidak terkena bencana. Bagi mereka yang tertimpa bencana, ini adalah ujian kesabaran dan ketabahan. Adapun bagi kita yang selamat dari peristiwa bencana, ini adalah ujian, sampai sejauh mana kita punya mata hati untuk membantu mereka. Menolong yang terkena musibah hukumnya wajib. Jika kita tak peduli, kita akan terkena dosa. Apabila kita membantu (minimalnya dengan doa), pahala Allah telah disiapkan.

Sampai sejauh ini, alhamdulillah, bangsa Indonesia secara umum terlihat masih punya mata hati. Bencana Palu-Donggala menghiasi pemberitaan media massa, dan diperbincangkan di mana-mana. Aksi-aksi sosial dan penggalangan dana bantuan digelar. Doa-doa pun dipanjatkan.

Yang menarik adalah di saat laga sepakbola persahabatan antara Arema dan Madura United digelar. Laga yang awalnya diperuntukkan bagi Haringga Sirila, supertor Persija Jakarta yang tewas dikeroyok secara biadab oleh oknum suporter Persib Bandung, juga menjadi ajang pengumpulan dana bagi korban bencana alam Palu-Donggala.

Ada dua nuansa yang kontras. Di satu sisi, laga ini digelar dengan nuansa keprihatinan dan pengecaman atas ulah sekelompok manusia jahat (oknum suporter Persib) yang dengan mudahnya menghilangkan nyawa manusia (haringga). Dari sisi ini, kita juga merasa khawatir dengan sangat tipisnya rasa kemanusiaan banga Indonesia. Akan tetapi, di sisi lain, adanya pengumpulan dana bagi korban bencana Palu-Donggala dalam laga tersebut justru menunjukkan bahwa kita semua, manusia Indonesia, masih memiliki mata hati. Kita masih bisa menangis atas hilangnya nyawa saudara-saudara sebangsa kita, meskipun mereka tinggal di lain pulau, dan tak pernah kita kenal.

Sepertinya, inilah salah satu hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa bencana di Palu dan Donggala. Kita ternyata masih punya rasa solidaritas dan kebersamaan, sebuah sikap yang diamanatkan oleh Pancasila dan konstitusi kita. Kebersamaan dan solidaritas adalah salah satu modal dasar sangat penting kalau kita ingin maju sebagai sebuah bangsa. Sebaliknya, perpecahan adalah lubang neraka yang siap meluluhlantakkan segala upaya untuk membangun negeri.

Memang benar, di sana-sini masih kita lihat sikap-sikap sangat tercela yang ditunjukkan oleh sebagian orang, yaitu mereka yang bersikap oportunistik, mengambil keuntungan dengan cara nista, di atas peristiwa bencana. Ada yang membuat pencitraan, dan ada yang menghubungkannya dengan sikap politik. Yang paling memperihatinkan adalah kalau sampai ada yang melakukan korupsi atas dana bantuan bencana, seperti yang terjadi pada bencana gempa di Lombok beberapa waktu lalu.

Percayalah, mereka yang berbuat nista, yang mengeruk keuntungan sesaat dari peristiwa bencana, akan dilaknat oleh seluruh semesta. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*