LiputanIslam.com – Peringatan Asyura, yaitu peristiwa wafatnya Husein bin Ali, cucunda Nabi Muhammad SAW, kembali digelar tahun ini. Selain diperingati secara besar-besaran oleh kaum Syiah di seluruh dunia, sebagian kaum Sunni juga memperingati peristiwa ini sebagai sebuah even budaya. Kita bisa menyaksikannya di Bengkulu, Pariaman (Sumatera Barat), dan beberapa tempat lainnya di Nusantara.

Di banyak tempat di dunia, termasuk di Indonesia, peringatan Asyura yang dilaksanakan oleh kaum Syiah mendapatkan resistensi yang cukup keras dari sekelompok kaum Sunni. Di Indonesia, kelompok yang paling menunjukkan penentangan keras itu berada di bawah bendara ANNAS (Aliansi Nasional Anti Syiah). Di Bandung dan di Solo, penentangan keras tersebut berujung kepada kericuhan.

Mengapa ada pihak yang menentang keras peringatan Asyura? Bukankah secara tradisional kaum Muslimin Indonesia sudah terbiasa dengan majelis-majelis haul (peringatan wafat)? Memang, ada kelompok-kelompok tertentu yang menolak pegelaran haul, misalnya Muhammadiyah dan Persis. Kelompok-kelompok tersebut menganggap haul sebagai bid’ah. Akan tetapi, penolakan tersebut selalu disertai dengan sikap toleran. Haul dianggap sebagai bagian dari khilafiyah, yaitu perbedaan cara beragama yang tidak perlu dibesar-besarkan. Mereka menganggapnya keliru; tapi mereka tidak akan mengganggu kalau ada ummat Islam lain yang melakukannya. Lalu, mengapa khusus untuk peringatan haul Husein bin Ali, terjadi penentangan yang sangat keras?

Al-Husein memang wafat dengan cara yang kontroversial. Seluruh sejarawan sepakat bahwa Al-Husein dibunuh secara tragis. Selama tiga hari, sebelum dibunuh, Al-Husein tidak diberi akses air minum. Kemudian, ia dibunuh dengan cara disembelih. Setelah disembelih, kepalanya ditancapkan di atas tombak, lalu diarak dari Karbala, menuju Kufah (Irak); dari Kufah ke Syam (Suriah). Sementara itu, jasad Al-Husein dibiarkan selama tiga hari sebelum akhirnya ada yang berani menguburkannya.

Proses wafatnya Al-Husein dengan cara yang tragis seperti itulah yang menyebabkan haul beliau juga menjadi berbeda dibandingkan dengan haul-haul lainnya. Di dalam peringatan Asyura, peristiwa kematian Al-Husein dibacakan dengan narasi kesedihan dan emosi tertentu. Situasi yang khas inilah yang disebut-sebut sebagai penyebab munculnya penentangan. Emosi dan kesedihan kaum Syiah saat memperingati Asyura dianggap absurd. Meratapi tragedi yang terjadi belasan abad yang lalu dianggap sebagai perilaku orang-orang yang cengeng, kontra-produktif, dan karenanya menjadi sia-sia. Ditambah dengan isu adanya ritual melukai diri (meskipun faktanya ritual ini hanya dilakukan oleh sekelompok kecil Syiah ekstrem yang dikecam oleh para ulama Syiah sendiri). Maka, makin absurd-lah peringatan Asyura.

Lalu, ada kesan bahwa orang-orang Syiah itu menyalahkan (bahkan melaknat) figur-figur sejarah tertentu (yaitu para sahabat Nabi) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian Al-Husein. Padahal, figur-figur tersebut sangatlah dihormati oleh kaum Sunni. Kondisi seperti ini dianggap hanya membuka luka lama; setia kepada daki-daki sejarah yang seharusnya sudah dibersihkan.

Menariknya, di sisi lain, banyak pihak di luar kaum Syiah (Muslim Sunni maupun yang non-Muslim) yang justru menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap peringatan Asyura. Mahatma Gandhi,  misalnya, menyatakan bahwa Al-Husein adalah inspirasi bagi setiap orang yang sedang berjuang melawan penindasan. Selain Mahatma Gandhi, berderet-deret tokoh dunia (Che Guevara, Nelson Mandella, hingga Soekarno) yang juga memberikan aspresiasi sangat tinggi kepada Al-Husein.

Di kalangan para pejuang Syiah pun, Asyura dan Al-Husein selalu saja disebut sebagai landasan ideologis dan moral saat mereka melakukan perlawanan terhadap apa yang mereka yakini sebagai kekuatan korup. Hezbollah di Lebanon, misalnya. Spirit Asyura adalah landasan ideologis kelompok ini saat menghadapi kekuatan Zionis Israel. Saat menghadapi serdadu Zionis berperalatan lengkap, milisi Hezbollah selalu membayangkan diri mereka sedang berada di Karbala, dan di hari Asyura. Bisa dibayangkan, betapa kuat dan mematikannya milisi yang punya sikap mental seperti itu.

Heroisme dan altruisme. Inilah wajah lain dari Asyura. Akar dari peristiwa Asyura adalah perlawanan Al-Husein melawan Yazid yang disimpulkan oleh para sejarawan Islam sebagai penguasa yang amoral dan bertangan besi. Untuk melawan penguasa yang diyakini oleh Al-Husein sedang menggiring agama Islam ke jurang kehancuran, ia mengorbankan dirinya dan keluarganya dengan cara yang sangat tragis.

Inilah dua wajah Asyura. Wajah pertama, yang mempertontonkan rintihan kesedihan, cenderung direspons secara negatif oleh kaum Sunni. Sedangkan wajah kedua, yang terkait dengan heroisme dan altruisme Al-Husein, ternyata bisa menjadi ledakan energi yang maha dahsyat bagi para pejuang kebenaran.

Agaknya, kedua pihak –Sunni dan Syiah– harus berupaya untuk saling mendekat. Kaum Syiah punya tantangan untuk mengurangi nuansa rintihan kesedihan (meskipun menangisi kematian tragis orang-orang tercinta adalah hal yang sangat alami dan manusiawi), sekaligus lebih banyak mengelaborasi sisi perjuangan Al-Husein. Di sisi lain, kaum Sunni juga punya tantangan agar bisa bersikap seperti Soekarno atau Gandhi: mengenang Asyura dari sisi heroisme Al-Husein, dan menjadikannya sebagai landasan moral perjuangan dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.

Sayangnya, ada sekelompok kecil orang (dari kalangan Sunni maupun Syiah) yang secara sengaja menutup-nutupi wajah kedua Asyura, dan hanya mengeksploitasi wajah pertamanya. Kita sangat patut curiga bahwa ada tangan-tangan jahat yang menginisiasi dan mendanai pembentukan kelompok-kelompok tersebut, sekaligus mengkapitalisasi aktivitas mereka. Mereka adalah pihak-pihak yang berkepentingan dengan kelanggengan kekuasaan licik mereka. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*