LiputanIslam.com –Sedikit pengamatan secara jernih akan mengantarkan kita kepada kesimpulan bahwa isu Suriah memang terkait sangat erat dengan nasib Palestina. Lihatlah, bagaimana kejadian-kejadian tragis di Palestina terus berlangsung tiap hari, tapi kejadian-kejadian tersebut hilang lenyap dari pembicaraan kaum Muslimin, termasuk di negara kita.

Silakan telusuri lintasan sejarahnya. Sejak kapan isu Palestina itu lenyap ditelan bumi? Anda akan menemukan bahwa itu terjadi bersamaan dengan menguatnya isu Suriah. Ketika isu Suriah memuncak, yang di antaranya ditandai dengan kemunculan ISIS, isu Palestina juga menjadi senyap. Bahkan yang lebih mengenaskan, tak sedikit ustadz dan jurnalis Muslim yang secara terang-terangan mengajak kaum Muslimin untuk mengabaikan isu Palestina, dan mengalihkan perhatiannya kepada isu Suriah.

Dengan menggunakan pendekatan geopolitik dan ekonomi-politik, kita juga akan menemukan benang merah yang sangat kuat antara isu Palestina dan Suriah, dan itu semua bermuara kepada intrik politik Amerika Serikat. Sebuah dokumen CIA yang akhirnya dirilis secara terbuka menyatakan dengan sangat jelas bahwa Israel punya kepentingan dengan keruntuhan pemerintahan Assad (Bashar dan almarhum ayahnya, Hafez). Karena konsistensi Suriah yang tak pernah mau berdamai dengan Israel (bahkan Suriah menjadi kubu perlawanan paling serius terhadap negara ini), Israel dengan bantuan Amerika merencanakan perpecahan Suriah menjadi beberapa negara kecil dengan ciri masing-masing yang bersifat sangat promordial (berdasarkan agama, madzhab, dan etnis).

Dari sisi kepentingan ekonomi, Amerika dan sekutu-sekutunya sangat terganggu dengan berbagai prospek strategis ekonomi Suriah karena akan menjadi jalur pipa gas dan minyak kawasan Teluk ke Eropa.

Lihatlah, bagaimana negara-negara semisal Turki, Jordania, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, secara serempak menggaungkan tuntutan yang sama persis dengan Amerika dan Israel. Mereka seiring sejalan menuntut apa yang mereka sebut dengan demokratisasi di Suriah yang dicirikan dengan turunnya Assad. Tuntutan ini sebenarnya sangat ganjil mengingat beberapa negara tersebut bercorak monarki yang mengharamkan demokrasi.

Ketika tuntutan demokratisasi tidak membuahkan hasil, muncul tuduhan dan tuntutan lain yang lebih absurd:  Assad adalah Syiah, yang sangat kejam terhadap rakyatnya yang Sunni. Karena itu, Bashar harus dijatuhkan, demi terselamatkannya nasib orang-orang Sunni.

Maka, dengan isu yang sangat sektarian itu, ditambah dengan fitnah hoax yang merajalela, terkumpullah ribuan “jihadis” asing ke Bumi Syam. Seluruh aktivitas mereka dibiayai dan didukung sepenuhnya oleh AS dan sekutu-sekutunya (Eropa dan negara-negara Teluk yang kaya-raya).

Akibatnya, isu utama jihad pun berubah total. Palestina terlupakan. Padahal, apa yang terjadi di Palestina tak berubah sama sekali, bahkan semakin buruk akibat tak adanya lagi suara pembelaan dari kaum Muslimin dunia.

Kini, hampir tak ada lagi yang peduli dengan pembangunan permukiman Yahudi di kawasan Palestina. Tak ada yang peduli dengan pembangunan terowongan di bawah Masjid Al-Aqsa. Tak ada yang membicarakan penahanan dan pembunuhan yang dilakukan hampir tiap hari oleh serdadu Zionis di Gaza dan Tepi Barat.

Sampai batas-batas tertentu, rencana Israel dan Amerika mencapai sasarannya. Serdadu Zionis dengan leluasa mencabik-cabik Bumi Palestina, sedangkan ummat Islam sendiri disibukkan oleh keganasan ISIS dan milisi sejenis. Amerika berhasil memainkan peranannya dengan bantuan dua agennya yang paling mematikan: ISIS dan Zionis.

Maafkan kami Palestina! Banyak di antara kami yang mudah tertipu. (editorial/liputanislam/ot).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL