LiputanIslam.com –Banyak perkembangan di Timur Tengah yang terjadi usai serangan pasukan Yaman ke pusat pengilangan minyak terbesar Arab Saudi Aramco 14 September lalu. Berbagai media pemberitaan melaporkan bahwa intensitas serangan pasukan Arab Saudi dan koalisinya ke sasaran-sasaran Yaman makin berkurang, dari yang tadinya rata-rata 40 kali dalam sehari, menjadi ‘hanya’ 6 kali. Kemudian, Arab Saudi, melalui Menteri Pertahanan Khaled bin Salman, juga mulai membuka diri untuk melakukan perundingan damai dengan pihak Yaman. Terakhir, sang Putera Mahkota Mohammed bin Salman (MbS) yang menyampaikan usulan rekonsiliasi dengan Iran.

Adanya inisiatif dari Arab Saudi untuk membuka dialog dengan Yaman dan Iran menunjukkan sejumlah hal. Pertama, perkembangan perang Yaman sama sekali di luar skenario yang dirancang oleh Saudi dan sekutu-sekutunya. Yaman yang sangat lemah dari sisi militer diperkirakan akan jatuh hanya dalam tempo kurang dari sebulan. Faktanya, setelah empat tahun berlalu, alih-alih jatuh atau melemah, Yaman  malah makin kuat. Itu dibuktikan, di antaranya adalah kemampuan pasukan Yaman untuk menyerang fasilitas industri paling strategis Arab Saudi.

Kedua, perang Yaman agaknya malah berbalik semakin melemahkan Saudi secara ekonomi dan politik. Ekonomi Arab Saudi betul-betul terguncang. Tahun lalu, dana Investasi Publik Arab Saudi (PIF) menyatakan bahwa untuk pertama kalinya Arab Saudi menarik pinjaman internasional senilai 11 miliar dolar (Rp 154 Trilyun) demi mengatasi masalah finansial yang melilit negara ini. Berbagai laporan meenyebutkan, langkah meminjam dan sampai ratusan trilyun itu sama sekali tidak bisa mengatasi krisis finansial Arab Saudi. Kemudian, reputasi politik Arab Saudi di dunia internasional dan di antara negara-negara Muslim juga terus menurun. Turki, yang selama ini dekat dengan Saudi, kini balik mengecam Arab Saudi dalam kasus Yaman.

Ketiga, Saudi mulai memberikan pengakuan atas milisi Houthi sebagai pihak yang memiliki legitimasi dan akseptabilitas di tengah-tengah rakyat Yaman. Sebelum ini, Saudi memandang ‘sebelah mata’ terhadap milisi ini, dan membangun opini bahwa mereka adalah pemberontak yang sebenarnya tak diterima oleh rakyat Yaman. Upaya membangun opini ini sepertinya gagal. Rakyat Yaman semakin memberikan dukungannya kepada kelompok ini. Tawaran perudingan damai dengan milisi Houthi menunjukkan bahwa Saudi mengakui bahwa Houthi adalah representasi rakyat Yaman.

Perdamaian dan rekonsiliasi sebenarnya adalah upaya yang selama ini justru didengungkan oleh Iran dan Yaman. Ketika Yaman digempur dan Iran dituduh berada di balik ‘kaum pemberontak’, kedua negara ini berkali-kali mengimbau Arab Saudi agar tidak melakukan intervensi dengan perspektif yang dibangun secara sepihak oleh diri sendiri. Akan tetapi, seruan-seruan itu tak digubris oleh Saudi

Begitu juga ketika berbagai lembaga internasional menyampaikan kecaman atas krisis kemanusiaan yang terjadi di Yaman, Arab Saudi bersikap tak peduli. Seperti yang sudah banyak dirilis oleh lembaga-lembaga internasional, Proyek Data Kejadian dan Tempat Konflik Bersenjata (ACLED) menyatakan bahwa serangan Arab Saudi itu lebih banyak menyasar warga sipil (67% korban). Sampai saat ini, korban sipil di Yaman telah mencapai 100.000 orang. Berbagai fasilitas publik juga rusak, terutama di sektor kesehatan.

Alhasil, perdamaian dan rekonsiliasi adalah hal yang baik. Islam juga sangat menekankan hal ini. Hanya saja, perdamaian hanya akan langgeng jika dibangun dengan tetap mempertimbangkan hukum dan keadilan yang substantif. Arab Saudi atau sekutunya harus siap dengan konsekwensi untuk memberikan konsesi jika nantinya terbukti bahwa mereka melakukan kejahatan perang dan kemanusiaan terhadap ratusan ribu rakyat Yaman. Jika perdamaian hanya sekedar basa-basi, apalagi hanya sekedar taktik mengulur waktu agar sementara waktu Saudi bisa ‘bernafas’, tentu hal itu akan menjadi sia-sia. Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*