donald-trump-vs-hillary-clintonBagaimanapun pandangan kita kepada AS, mau tidak mau harus kita akui bahwa Negeri Paman Sam itu saat ini masih menjadi salah satu pemain utama percaturan politik dunia. Apapun yang terjadi di sana selalu menyedot banyak pihak di dunia, baik kawan ataupun lawan. Hal ini pula yang terjadi saat ini, ketika politik dalam negeri AS sedang dipanaskan oleh debat capres yang mementaskan dua kandidat, yaitu Hillary Clinton dari Partai Demokrat dan Donald Trump dari Partai Republik.

Perhelatan pilpres empat tahunan itu memang selalu menyedot perhatian dunia, termasuk Indonesia. Berita-berita tentang perdebatan yang memanas turut menjadi salah satu headlines media-media dalam negeri. Bahkan beberapa televisi swasta nasional Indonesia secara khusus membuat acara talkshow dengan pembahasan seputar perkembangan debat-debat yang dilangsungkan.

Sayangnya, hal-hal yang dibahas pada berbagai talkshow tersebut lebih kepada sisi-sisi politik pemenangan masing-masing capres, atau yang sering kita sebut sebagai sisi prosedural dari sebuah dunia politik. Perhatikanlah bagaimana hal-hal yang terkait dengan gaya bicara, pemilihan isu debat, serta sikap saling serang diulas secara mendetail. Pertanyaan besarnya adalah: siapakah di antara keduanya yang memiliki tingkat elektabilitas lebih tinggi saat pemilu digelar? Ujung-ujungnya, publik dunia akan merasa puas seandainya capres yang kemudian terpilih adalah yang “penampilannya” lebih unggul di atas calon yang lain.

Hal-hal seperti itu bisa dipastikan tidak akan banyak mengulas hal-hal yang substansial, khususnya yang terkait dengan kepentingan ummat Islam dunia. Padahal, titik itulah yang menjadi alasan kenapa kita begitu peduli dengan politik internal AS.

Mariah kita ubah sudut pandang parameternya, yaitu menjadi kepentingan dunia Islam. Berdasarkan kepada track record kedua kandidat (dan juga track record kebijakan partai asal keduanya, yaitu Republik dan Demokrat), sangat sulit rasanya bagi ummat Islam untuk berharap banyak pada hasil dari perhelatan pilpres AS ini.

Trump sudah sama-sama kita ketahui. Ia tak menyembunyikan kebenciannya kepada Islam. Partai Republik juga sama. Tentu Dunia Islam tidak bisa melupakan malapetaka yang ditimpakan Presiden George W. Bush kepada kaum Muslimin lewat aksi-aksinya yang memporak-porandakan Afganistan dan Irak.

Adapun Clinton, kita juga sama-sama tahu bahwa dia menjadi menteri luar negeri di periode pemerintahan Obama yang pertama. Dia termasuk yang bertanggung jawab atas krisis di Mesir, kehancuran Lybia, serta krisis di Suriah (dan juga Irak dan Yaman). Fakta bahwa Clinton adalah “kreator” atas berdirinya kelompok radikal paling sadis di abad ini (ISIS) sudah menjadi rahasia umum di dunia. Bahkan Trump sendiri secara terbuka telah mengungkap peran Obama dan Hillary Clinton dalam proses berdirinya ISIS.

Alhasil, segala kemelut dan kecamuk yang terjadi di Dunia Islam sekarang ini adalah hasil karya kedua kubu yang saat ini bersaing untuk meraih tampuk kekuasaan di AS. Kalau dilihat dari gelagatnya, mereka tidak akan mengubah kebijakan mereka itu. Apalagi kedua kubu juga terikat kontrak politik dengan lobi-lobi Yahudi. Baik Trump ataupun Clinton, keduanya tersandera oleh lobi Yahudi, dan dipastikan akan terus menjaga dan mengutamakan kepentingan Israel. (editorial/liputanislam/ot)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL