hebdoAksi terorisme kembali mengguncang dunia. Kali ini, Paris yang menjadi pusat pemberitaannya. Dikabarkan bahwa tiga orang bersenjata pada hari Rabu (7/1) melakukan serangan bersenjata ke Kantor Redaksi Majalah Charlie Hebdo. 12 orang diberitakan tewas dan sepuluh lainnya menderita luka-luka akibat aksi ini. Sementara para pelaku aksi dikabarkan berhasil melarikan diri.

Apapun juga latar belakangnya, ini adalah aksi teror yang layak dikecam. Pembunuhan secara sporadis dengan cara penyergapan, kepada warga sipil, adalah tindakan yang bertentangan dengan logika, konstitusi, kemanusiaan, dan juga syariat agama. Masalah syariat agama perlu disebutkan di sini karena aksi ini biasanya dikait-kaitkan dengan kelompok Islam radikal. Di sisi lain, mayoritas ulama dunia yang memiliki kredibilitas keilmuan yang memadai secara jelas melarang aksi-aksi seperti ini.

Hanya saja, kesalahan yang dilakukan oleh satu pihak tidak dengan serta-merta membuat pihak lainnya menjadi benar. Ini juga kesalahan logika elementer yang sering terjadi. Ketika sekelompok kecil orang Islam melakukan tindakan teror terhadap kepentingan-kepentingan Barat, dan aksi teror itu dipastikan sebagai tindakan keliru, itu tidak berarti bahwa Barat berada di jalur yang benar.

Jika kita melihat latar belakang dan konteks aksi teror terhadap Majalah Charlie Hebdo tersebut, kita akan mendapati bahwa majalah (dan pemerintah Perancis secara umum) juga memang berkali-kali melakukan dosa yang juga tak kalah buruknya. Pertama, Majalah Charlie Hebdo berkali-kali menerbitkan tulisan dan karikatur/kartun yang amat menyakiti ummat Islam, yaitu berupa penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Meskipun berkali-kali diprotes, pemerintah Perancis tetap membela majalah tersebut dengan dalil kebebasan ekspresi.

Tentu saja alasan ini terlihat sangat rapuh dan terlalu diada-adakan. Jika memang pemerintah Perancis benar menjunjung tinggi kebebasan ekspresi, kenapa mereka melarang pertunjukan komedian terkenal, Dieudonne M’bala M’bala, yang ingin menggelar tur nasional ke beberapa kota di Perancis, termasuk Nantes, Bordeaux, Touls, dan Orleans? Kenapa pula mereka menjatuhkan hukuman penjara kepada siapa saja yang ingin melakukan penelitian ilmiah soal Holocoust (kisah pembantaian enam juta warga Yahudi oleh Nazi Jerman)?

Jadi, dari sisi ini, aksi terorisme ini bisa difahami oleh akal, dan sudah bisa diduga. Tapi, sekali lagi, difahami di sini tidak berarti bahwa tindakan ini bisa dibenarkan. Kita bisa memahami bahwa penghinaan berulang-ulang terhadap figur paling dicintai oleh ummat Islam pastilah akan menyinggung perasaan mereka. Ketika rasa ketersinggungan itu dirasakan oleh sejumlah orang yang “lugu dan militan”, sudah bisa diduga bahwa salah satu tindakan orang-orang lugu itu bisa jadi berupa tindakan teror.

Kemudian, dosa kedua Barat yang menjadi konteks aksi teror terhadap Majalah Charlie Hebdo ini terkait dengan krisis Suriah. Dari pernyataan para pejabat keamanan Perancis (dan negara-negara Barat lainnya) soal krisis Suriah, terlihat bahwa mereka sendiri sudah memprediksi akan terjadinya aksi-aksi teror seperti ini. Berkali-kali mereka menyatakan kekhawatiran bila para ‘jihadis’ Suriah kembali ke Eropa.

Sebagaimana diketahui, Perancis termasuk negara yang paling getol memberikan segala macam bantuan kepada kelompok pemberontak bersenjata di Suriah, termasuk yang tergabung di dalam Jabhah Al-Nusra dan ISIS. Di sisi lain, juga sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sebagian besar jihadis bersenjata itu merupakan para petempur impor, bukan warga asli Suriah. Mereka bahkan datang dari negara-negara Barat, termasuk Perancis dan Amerika.

Kini, setelah upaya penggulingan Assad membentur kegagalan, kekhawatiran soal arus balik kaum jihadis yang telah mendapatkan pengalaman tempur di Suriah dan Irak, mulai menjadi kenyataan. Tampaknya, Perancis sedang menuai badai akibat dulunya bermain-main dengan cara menabur angin. (editorial/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*