charlieKasus pembunuhan terhadap sejumlah awak media Majalah Charlie Hebdo jelas harus dikecam. Akan tetapi, kasus ini juga mengungkap banyak sisi buruk dari Barat. Para analis belakangan mulai berspekulasi mengenai kemungkinan bahwa aktor intelektual dari aksi tersebut sebenarnya adalah pihak Barat sendiri, khususnya Dinas Intelejen Israel. Sebagaimana diketahui, aksi teros ini memicu sikap anti-Islam yang meluas. Lalu, dengan adanya peristiwa ini, langkah pemerintah Perancis untuk mengakui kemerdekaan Palestina menjadi tersendat. Tentu saja, Israel menjadi pihak yang paling diuntungkan dengan situasi yang ada sekarang ini. Tidak mungkinkah Israel berada di balik semua peristiwa ini?

Sisi lain yang terungkap adalah soal standar ganda Barat terkait kebebasan berekspresi. Sudah banyak diungkap fakta-fakta bahwa Barat tidak konsisten saat mengimplementasikan konsep kebebasan berekspresi. Secara rasional, memang tidak mungkin ada kebebasan yang sebebas-bebasnya. Dalam hal berekspresi pun, mesti ada batas yang tidak bisa diterabas begitu saja. Sebagai contoh, di Perancis, pengkritik Holocoust dan Zionis harus berhadapan dengan pengadilan untuk kemudian merasakan jeruji besi penjara.

Hal lain yang juga sangat penting terkait dengan Charlie Hebdo ini adalah masalah arogansi Barat terhadap komunitas Muslim dunia. Kita semua tahu bahwa penghinaan berulang-ulang yang dilakukan Majalah Charlie Hebdo terhadap Rasulullah mendapatkan pembelaan dari pemerintah Prancis dan juga pemerintahan Barat lainnya. Charlie Hebdo dianggap berada di jalur yang benar. Kritikan, kata mereka, adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kebebasan berekspresi. Menurut mereka, ummat Islam mestinya tak usah tersinggung ketika Nabi Muhammad menjadi objek karikatur. Ummat Islam seharusnya meniru orang-orang Kristen Eropa yang sama sekali tidak tersinggung manakala para pemimpin agama mereka, semisal Paus, juga menjadi bahan olok-olok satire Charlie Hebdo.

Argumen seperti ini pada dasarnya menunjukkan arogansi Barat terhadap Dunia Islam. Dengan argumen ini, Barat pada dasarnya sedang memaksa seluruh dunia untuk menggunakan tata nilai Barat sebagai parameter kebenaran berperilaku. Orang-orang Islam di seluruh dunia harus melepaskan pandangan sakral terkait masalah agama.

Jika perasaan orang-orang Kristen Barat sama sekali tidak terusik manakala Paus diolok-olok, itu memang sangat wajar dan sangat bisa dipahami. Barat secara umum memang sekuler. Simbol-simbol agama bukan hal yang sakral. Barat tidak mencintai segala hal yang bersifat spiritual, sehingga jika hal-hal spiritual itu diusik, tak ada perasaan yang tersinggung sama sekali.

Itu jelas hak mereka. Silakan saja untuk menjadi orang sekuler. Tak ada paksaan untuk menjadikan hal-hal yang spiritual sebagai objek kesakralan. Meskipun, tentu saja, kita tetap ingin menyampaikan bahwa sikap-sikap tersebut akan merenggut kebahagiaan hakiki dari kehidupan mereka. Kita juga ingin berteriak dengan lantang bahwa cara hidup seperti yang diajarkan Islam inilah yang akan membuat kita bahagia. Tetap setia untuk mencintai Baginda Nabi adalah sumber mata air ketenteraman yang tak akan pernah habis. Terus bershalawat kepada Rasulullah adalah ekspresi spiritual yang akan diganjar dengan tetesan hujan rahmat yang tiada berbatas.

Jadi, silakan saja Barat untuk menganut paham hidup sekuler. Itu adalah hak mereka. Tapi, tentu akan menjadi kekeliruan besar manakala mereka memaksa entitas lain di luar mereka agar menjadi masyarakat sekuler. Ummat Islam tentu tak boleh dipaksa untuk melepaskan kecintaan dan pandangan sakral terhadap simbol-simbol agama.

Pemaksaan adalah indikasi terkuat sifat arogan. Selama sikap arogan ini tetap dipelihara, ketegangan akan selalu tercipta. Jadi, dalam kasus Charlie Hebdo ini, siapa yang paling bersalah? (editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*