yahudiIni sebenarnya bukan cerita baru. Bahwa segala macam kebijakan luar negeri AS sangat dipengaruhi oleh lobi Yahudi; bahwa suara-suara kelompok-kelompok Yahudi seringkali menjadi kata pemutus bagi apapun yang diperjuangkan oleh AS di forum-forum internasional; dan bahwa kepentingan Israel adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar oleh AS, adalah fakta yang sudah sangat sering kita dengar. Kini, dalam kasus kesepakatan nuklir yang dicapai Iran dengan negara-negara P+1 (AS, Rusia, Inggris, Perancis, Cina, dan Jerman), masalah lobi Yahudi ini kembali mengemuka dengan sangat terang benderang.

Apa itu lobi Yahudi? Ini adalah istilah yang mengacu kepada koalisi tidak mengikat di antara perorangan dan organisasi-organisasi yang secara aktif bekerja memengaruhi kebijakan luar negeri AS hingga selalu pro Israel. Meskipun hanyalah sebuah kelompok tak formal, lobi Yahudi saat ini menjadi kelompok kepentingan yang paling kuat di AS. Sedemikian kuatnya mereka sampai-sampai politisi mana pun yang menentang kebijakan-kebijakannya, dipastikan tak akan mungkin memiliki peluang apapun untuk menduduki jabatan politik di AS.

Seorang calon presiden pastilah pertama-tama, akan berusaha kuat memperoleh dukungan dari lobi Yahudi. Bahkan, dalam banyak kasus, seorang presiden memang dicalonkan secara resmi oleh lobi Yahudi. Sudah sekian ratus tahun lamanya, kontestansi di tiap pilpres AS adalah pertarungan di antara para kandidat yang sudah “lolos verifikasi” lobi Yahudi. Para capres adalah mereka yang sudah menyatakan janjinya untuk mengamankan kepentingan Israel.

Kini, dalam kasus kesepakatan nuklir Iran yang ditandatangani di Vienna, lobi Yahudi “menagih janji” kesetiaan itu. Mereka sangat yakin bahwa pencabutan sanksi ekonomi atas Iran itu mengancam kepentingan Israel. Kesepakatan itu akan memperkuat posisi politik Iran di Timur Tengah; dan Iran akan makin leluasa memberikan bantuan kepada pihak-pihak yang selama ini menjadi musuh Israel, seperti Hezbollah, Suriah, dan Hamas.

Kekhawatiran itu semakin ditambah dengan kecurigaan resmi Tel Aviv soal apa yang mereka sebut dengan “bahaya senjata nuklir Iran”. Sebagaimana yang gencar diberitakan, PM Israel Benjamin Netanyahu mengkritik keras kesepakatan Vienna. Menurutnya, kesepakatan tersebut mengancam Israel dan keamanan global sebab kesepakatan hanya menunda Iran untuk memperkuat diri dengan senjata nuklir dan bukannya menghabisinya. Teheran sendiri berkali-kali membantah tuduhan ini, karena senjata nuklir sama sekali tidak ada dalam doktrin pertahanan Negeri Para Mullah itu.

Yang jelas, saat ini sedang terjadi demonstran secara terang-terangan yang dilakukan oleh lobi Yahudi dalam rangka mendukung sikap dan pendirian Netanyahu. Dalam hal ini, upaya apapun yang akan ditempuh Obama tentulah tidak dalam konteks mengabaikan kepentingan Israel, karena ini sama saja dengan bunuh diri politik dirinya dan Partai Demokrat. Paling banter, Obama hanyalah akan meyakinkan lobi Yahudi bahwa hasil kesepakatan Vienna tidak akan mengganggu kepentingan Israel. (editorial/liputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL