LiputanIslam.com –Bulan Ramadhan kembali menyapa kita. Ini adalah bulan perjamuan Allah bagi siapa saja yang mau mendatanginya. Hidangan dari Allah berupa ampunan atas dosa, keberkahan yang melimpah, kasih sayang yang tak kan lekang, disediakan oleh-Nya.

Ibadah utama kita di bulan ini adalah berpuasa, yang didefinisikan sebagai ibadah menahan diri dari (imsak ‘an) hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dan berhubungan suami istri. Secara spiritual, kewajiban puasa diturunkan kepada ummat Islam sebagai ajang latihan agar kita terbiasa menahan diri dari melakukan apapun yang dilarang oleh Allah. Jadi, pesan penting dari ibadah puasa adalah “pengendalian diri”.

Pada dasarnya pengendalian diri adalah kunci utama untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Hidup manusia adalah proses pertarungan antara kecenderungan baik melawan kecenderungan buruk. Pengendalian diri bermakna menghilangkan sekuat tenaga kecenderungan buruk sambil mendorong tumbuh kembangnya kecenderungan baik.

Manusia biasa seperti kita jelas bukan makhluk sempurna. Kita memang punya sejumlah sifat baik. Akan tetapi, masih sangat banyak juga sifat buruk yang menempel pada diri kita. Ada orang yang rajin bekerja, akan tetapi dia punya sifat kikir. Ada orang yang rajin mencari ilmu hingga mendapatkannya, tapi ia sombong. Ada yang bertutur sopan, tapi hatinya dipenuhi sikap iri hati. Ada yang masih mudah marah, riya dalam beribadah, suka menggibah, mengumpat, mencela, memfitnah (menebar hoax), mengadu domba, melakukan ujaran kebencian, dan lain sebagainya.

Teks-teks agama menyebutkan secara tegas bahwa semua sifat buruk itu mau tidak mau harus terus kita kikis dari diri kita, kalau kita menghendaki kesuksesan, keselamatan, dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jika kita lalai dan atau menganggap enteng keberadaan sifat-sifat tersebut, kita akan selamanya didera oleh kesedihan, stres, serta nasib buruk di akhirat kelak.

Untuk konteks sosial-politik Indonesia, masalah pengendalian diri ini menjadi sangat penting, bahkan sangat menentukan nasib bangsa ini. Lihatlah, betapa tersebarnya hoax dan ujaran kebencian telah menciptakan ancaman bagi disintegrasi bangsa; betapa sikap cinta dunia secara berlebihan, iri-dengki, serta ambisi telah membuat kekayaan bangsa ini tergerogoti oleh para koruptor yang hina.

Semua carut-marut yang terjadi pada bangsa ini berawal dari sifat buruk yang masih tumbuh dan berkembang di kalangan individu-individu anak bangsa ini, khususnya mereka yang tengah memangku amanah dan jabatan mengelola negara, baik yang berada di eksekutif, legislatif, ataupun yudikatif; baik yang berada di pusat ataupun daerah.

Ramadhan tahun ini menjadi terasa istimewa bagi bangsa Indonesia karena saat ini, atmosfer politik bangsa ini sedang makin memanas menjelang pilkada 2018 serta proses tahapan pendaftaran caleg dan capres/cawapres untuk pemilu 2019 tahun depan. Berbagai manuver terus dilakukan tanpa mengenal waktu, karena politik sering dimaknai sebagai seni memanfaatkan momentum. Maka, nafsu dan syahwat politik akan betul-betul diuji di bulan suci ini. Kita lihat saja, apakah ujaran kebencian, fitnah, celaan, kesombongan, dan beragam sifat buruk lainnya masih saja berhamburan dari mulut para politisi kita? Semoga melalui bulan Ramadhan tahun ini, Allah SWT melindungi dan menjaga bangsa ini. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL