LiputanIslam.com –Isu Suriah kembali menghangat seiring dengan beredarnya postingan dari seorang facebooker bernama Dahono Prasetyo yang berjudul “Bukalapak Bukalah Topengmu”. Dunia maya menjadi heboh oleh tulisan tersebut karena Dahono mengaitkan perusahaan toko online sebesar Bukalapak dengan isu teroris di Suriah yang terindikasi mendapatkan bantuan dari lembaga donasi Aksi Cepat Tanggap (ACT). Dalam tulisannya itu, Dahono menyebut situs Liputan Islam sebagai rujukan utama dalam melihat benang merah antara ACT (dan sejumlah lembaga donatur lainnya) dengan kelompok teroris Suriah.

Di dalam artikel yang dirujuk oleh Dahono, kami sudah menunjukkan secara jelas fakta adanya kaitan ACT dengan salah satu kelompok pemberontak di Suriah. Tentu saja, ACT tidak secara terbuka menyatakan bahwa dana yang mereka kumpulkan itu ditujukan untuk pemberontak. ACT menyebutnya sebagai bantuan untuk rakyat Suriah. Akan tetapi, ketika isu, narasi, pola penyaluran, dan simbol yang dipakai oleh ACT itu identik sama dengan berbagai atribut pemberontak Suriah, dipastikan bahwa berbagai dana yang dikumpulkan itu memang mengalir ke kelompok pemberontak.

Di sisi lain, kami juga telah berkali-kali menurunkan tulisan yang menunjukkan bukti bahwa pemberontak Suriah itu pada dasarnya adalah teroris. Mereka menjadikan jihad palsu sebagai topeng untuk menutupi perilaku sadis mereka. Bahkan, pada dasarnya, kaum pemberontak yang menggelorakan isu jihad ala Islam itu didirikan, didanai, dan dibantu justru oleh musuh Islam itu sendiri, yaitu AS dan Zionis Israel.

Selama ini, kaum Muslimin di Indonesia banyak yang tidak mengetahui pola-pola seperti itu. Lalu, tiba-tiba saja, bangsa Indonesia dihadapkan kepada banyaknya aksi-aksi terorisme di Tanah Air, dan aksi-aksi tersebut dilakukan oleh alumni dan simpatisan “mujahidin” Suriah. Bangsa Indonesia juga disibukkan oleh isu radikalisme yang tiba-tiba saja merajalela di sekolah-sekolah, BUMN, kampus, bahkan di kalangan polisi dan TNI.

Kita juga dikagetkan oleh informasi adanya ratusan orang Indonesia yang berada di kamp-kamp teroris Suriah; ada ratusan anak-anak dan wanita di sana. Mereka meminta agar pemerintah Indonesia memulangkan mereka ke Tanah Air. Situasi ini lalu menciptakan polemik di tengah-tengah masyarakat. Terjadi perdebatan, apakah mereka sebaiknya dibiarkan saja terlunta-lunta di kamp terorisme sebagai konsekuensi atas keputusan mereka untuk bergabung ke ISIS, ataukah sebaiknya dipulangkan dengan berbagai konsekuensinya?

Situasi seperti ini selayaknya menjadi pelajaran buat ummat Islam, betapa isu kebangkitan Islam, isu ghirrah terhadap agama Islam, tidak berarti bahwa kita boleh melakukan apapun juga atas nama Islam. Ada banyak konspirasi di luar sana yang dibuat untuk menjebak dan melemahkan spirit perjuangan ummat Islam, dan membelokkannya menjadi sesuatu yang justru malah menciptakan image yang buruk bagi Islam itu sendiri.

Menjadi muslim yang baik, artinya juga menggunakan akal dan fakta sebagai dasar untuk bertindak. Ketika dengan mudahnya kita masih percaya terhadap hoax, ketika kita masih enggan ber-tabayyun dengan berbagai isu yang berseliweran di ruang publik kita, segala niat dan upaya kita untuk melakukan kebaikan bisa jadi malah akan berujung kepada keburukan. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*