z-fitnahMeskipun sudah berulang-ulang diulas, kita tidak boleh berhenti untuk terus-menerus mengingatkan diri sendiri dan masyarakat umum tentang bahaya besar dan bersifat laten kelompok yang dikenal sebagai takfiri. Ini karena jika dibiarkan, gerakan tersebut akan mengakibatkan kerusakan di muka bumi dalam skala yang tak terkira. Rangkaian logika bahwa beda faham sama dengan kafir, dan orang kafir halal darahnya (boleh dibunuh), terbukti telah menumpahkan darah jutaan orang yang tak berdosa.

Takfiri bukan hanya buruk dari sisi esensi dan dampak yang ditimbulkannya, melainkan juga buruk dari cara yang mereka pilih untuk menggapai tujuannya. Salah satu cara favorit takfiri sepanjang sejarah adalah menggelar festival fitnah dan kebohongan demi mencapai tujuan mereka. Fakta diputarbalikkan, video dan gambar direkayasa, persepsi publik digiring ke arah manapun yang mereka kehendaki.

Kita di sini ingin mengingatkan perilaku kelompok takfiri saat dengan seenaknya men-dubbing (alih suara) video aparat yang membawa gergaji listrik di hadapan gembong narkoba Meksiko. Video itu pun ‘berubah’, menjadi seolah tentara Suriah yang hendak mengeksekusi warganya yang menolak menyembah Assad. Atau, ada juga ratusan foto-foto kekerasan yang sejatinya terkait dengan Irak, Palestina, bahkan Turki malah disebut sebagai kekerasan di Suriah.

Bagaimana akibat dari berbagai kampanye kotor ala takfiri itu? Berbagai laporan resmi menyebutkan bahwa jumlah warga sipil yang tewas selama perang yang berkobar di Negeri Syam itu mencapai angka 150.000 orang. Pengungsi diperkirakan menembus angka satu juta. Infrastruktur di negeri itu hancur lebur. Negeri yang selama puluhan tahun relatif hidup dalam kedamaian itu tiba-tiba saja terbenam dalam kubangan kekerasan yang sangat mengerikan.

Kini kita mendapati gejala serupa sedang berlangsung di negeri ini, walaupun dalam skala yang lebih kecil. Kampanye hitam yang bertopang kepada fitnah dan rekayasa berita menjadi santapan berita harian masyarakat Indonesia. Perilaku politik yang sangat rendah dan tidak beradab menjadi tontonan dan hiburan. Akibatnya, kedua kubu pasangan capres-cawapres menjadi sibuk menangkis fitnahan yang diarahkan kepada jagoan mereka.

Tentu saja krisis Suriah tidak bisa dibandingkan dengan ketegangan rivalitas politik pada pilpres Indonesia. Hanya saja, kampanye hitam tetaplah kampanye hitam yang sangat busuk dan terkutuk. Fitnah dan kebohongan, dalam skala apapun, tetaplah ancaman bagi kemanusiaan dan kehidupan berbangsa yang adil dan beradab.

Adalah sebuah bencana jika kemenangan yang akan diraih oleh salah satu kubu itu ternyata merupakan buah dari keberhasilan mereka dalam melancarkan fitnah terhadap kubu rival. Apa jadinya Indonesia nantinya jika dipimpin oleh orang-orang yang diuntungkan oleh festival fitnah? Apa jadinya Negara Kesatuan Republik Indonesia ini jika dikelola dengan cara-cara takfiri?

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL