LiputanIslam.com –Sebuah kejahatan kembali dipertontonkan di negeri ini. Novel Baswedan, seorang penyidik senior KPK, diteror dengan cara sangat keji dan biadab: mukanya disiram oleh air keras. Tak ada operasi yang bisa mengembalikan seperti semula kulit muka yang terkena guyuran air keras. Kulit muka Novel akan cacat selamanya. Bahkan, karena air keras itu juga mengenai matanya, ada kemungkinan Novel kehilangan penglihatan (salah satu, atau bisa jadi dua-duanya).

Kita tentu sangat marah dengan kejadian itu. Untuk Novel Baswedan dan keluarganya, kita sampaikan rasa simpati  yang sangat dalam. Kita meyakin bahwa musibah yang menimpa Novel tak mungkin luput dari apresiasi Allah. Dia pasti menyediakan pahala berlimpah atas setiap musibah dan pengorbanan yang ditunjukkan oleh seorang hamba yang menjalankan amanah perjuangan menegakkan kebenaran.

Novel telah bergabung dengan ribuan pahlawan lainnya di Tanah Air ini; mereka yang cacat atau gugur di saat memperjuangkan apa yang diyakini sebagai kebenaran. Keberanian mereka sangat patut dijadikan contoh. Poinnya adalah: mereka tahu bahwa perjuangan mereka itu mengandung resiko. Akan tetapi, sangat besar dan buruknya resiko itu tak menyurutkan langkah mereka untuk tetap berjuang. Bahkan, untuk kasus Novel, resiko yang dimaksud sudah lama bukan lagi sekedar ancaman, melainkan sudah menjadi aksi. Sebelum ini, tercatat tiga kali Novel mengalami kecelakaan ditabrak secara sengaja oleh orang tak dikenal. Akan tetapi, Novel tak peduli.

Tetap berani dan tak peduli dengan ancaman adalah ciri utama para pejuang kebenaran. Sikap ini pula yang paling ditakuti orang-orang zalim, karena dipastikan akan menggagalkan kejahatan mereka.

Di mana-mana, para penjahat pastilah  akan mencoba menutupi kejahatan yang dilakukannya. Salah satu cara terampuh untuk menutupi kejahatan itu adalah dengan menteror siapa saja yang melawan. Maka, selama tak ada yang berani melawan dengan konsisten, selama orang takut dengan ancaman dan teror, para penjahat itu akan aman-aman saja.

Dalam sejarah Islam, kita tentu mengenal sosok Rasulullah SAW, juga keluarga yang suci dan sahabatnya yang setia, dari sisi keberanian mereka melawan ancaman dan teror. Sejak beliau menyebarkan risalah kebenaran, ancaman tak pernah berhenti menteror Nabi. Ada boikot di Syi’ib Abi Thalib, hingga kesepakatan para pemuka Qureisy untuk menghabisi nyawa Nabi menjelang hijrah beliau ke Madinah.

Itu pula yang kemudian terjadi sepanjang sejarah Islam. Teror demi teror, pembunuhan demi pembunuhan, dilakukan oleh para penjahat. Akan tetapi, selalu saja ada para pejuang gagah berani yang mengatakan, “Kami tidak takut!”

Dalam beberapa dekade terakhir ini, kaum Muslimin juga mendapatkan ujian dengan munculnya para milisi berjubah Islam; tapi hakikat perilaku mereka adalah tindakan teror yang dikutuk oleh agama. Mereka juga mengancam, menyemburkan sumpah serapah, menggorok leher anak-anak, serta melakukan bom bunuh diri. Tapi, sekali lagi, tetap muncul para pejuang yang punya nurani, yang tak menyurutkan langkahnya dalam berdiri, melawan kepandiran dan kekerasan dengan berani.

Kasus teror terhadap Novel menjadi pelajaran sangat berharga buat kita, bangsa Indonesia, bahwa kita tak pernah takut terhadap ancaman teror apapun. Karena kita tahu, hanya inilah satu-satunya cara melawan; karena kita tahu bahwa berani karena benar adalah watak dasar para pahlawan bangsa. (editorial/liputanIslam/ot)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL