LiputanIslam.com –Tanggal 20 Oktober 2019 Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin secara resmi telah dilantik sebagai presiden dan wakil presiden periode 2019 – 2024. Keduanya disumpah untuk menjadi nakhoda yang akan membawa bahtera Indonesia mengarungi samudera tantangan menuju pantai harapan. Jokowi-Ma’ruf akan menjadi figur yang menentukan wajah dan perjalanan Indonesia lima tahun ke depan.

Ada beragam tanggapan terkait dengan masa depan Indonesia di bawah Jokowi Ma’ruf. Sebagian menunjukkan optimismenya, bahwa Indonesia akan dibawa menuju ke arah kecemerlangan. Akan tetapi, tak sedikit yang bersikap skeptis. Mereka ragu, pesimis, dan bahkan putus asa terkait masa depan Indonesia di bawah duet kepemimpinan Jokowi Ma’ruf.

Sebagian menyandarkan sikap skeptisnya itu kepada apa yang sudah dicapai oleh Jokowi selama lima tahun kepemimpinannya bersama Jusuf Kalla. Mereka memberikan catatan yang tebal terhadap banyaknya butir-butir nawacita yang dicanangkan Jokowi yang dinilai tak tercapai: pertumbuhan ekonomi masih di bawah target, banyak kasus HAM yang belum terselesaikan, serta kasus-kasus korupsi yang masih terjadi, yang bahkan menimpa dua orang menteri di era Jokowi.

Sikap skeptis dengan motivasi seperti ini semestinya memang harus tetap ada dan harus terus dipelihara. Ini sangat penting dalam rangka mengawal dan mengawasi kinerja Jokowi-Ma’ruf. Ini adalah sikap kritis yang positif sebagai bagian dari sistem kontrol rakyat atas kinerja pemerintahan.

Yang tidak bisa diterima adalah sikap kritis yang didasari oleh rasa sakit hati gara-gara jagoannya dalam pilpres lalu kalah oleh Jokowi-Ma’ruf. Kelompol orang-orang seperti ini cukup banyak. Banyak yang meyakini bahwa Jokowi-Ma’ruf menang karen aberlaku curang melalui  KPU dan Mahkamah Konsitusi. Selain itu, bagi kelompok ini, Jokowi adalah figur yang sama sekali tak layak menjadi presiden. Jokowi dipandang sebagai figur anti agama Islam yang suka mengkriminalisasi ulama. Jokowi juga disebut sebagai antek asing, yaitu Cina.

Sikap kritis dengan motif seperti ini dikhawatirkan hanya akan menciptakan kritikan yang membabi buta serta destruktif.  Pencapaian positif apapun yang diraih oleh pemerintahan Jokowi-Ma’ruf kelak akan dipandang dari perspektif negatifnya. Apapun yang dilakukan Jokowi-Ma’ruf tak akan ada positifnya bagi mereka. Bahkan, akan menjadi sangat buruk jika kemudian muncul upaya-upaya sabatose terhadap berbagai kebijakan Jokowi-Ma’ruf, sehingga, ada celah untuk membuktikan asumsi mereka tentang betapa rendahnya kapasitas Jokowi-Ma’ruf sebagai duet pemimpin negara.

Di sisi lain, ada juga kelompok yang menempatkan Jokowi-Ma’ruf sebagai sosok-sosok tanpa cela bak dewa. Kebijakan apapun yang diambil akan dianggap benar. Pencapaian apapun yang ditorehkan akan dinilai sempurna, seraya mengabaikan sisi-sisi negatif yang biasanya selalu saja ada menyertai setiap pencapaian.

Dua sikap ekstrem di atas bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan dan keadaban. Terlalu mencela dan selalu mengambil posisi dengan perspektif negatif adalah tindakan yang tidak adil. Selalu memandang positif dan menutup mata atas kekurangan dan kesalahan juga adalah sikap yang tidak proporsional.

Kita beri Jokowi-Ma’ruf kesempatan selama lima tahun ke depan. Kita awasi dengan baik kinerja pemerintahan baru secara kritis dan adil. Ini adalah bentuk tanggung jawab kita kepada bangsa, negara, masyarakat, dan juga agama. Kita harus ingat, di saat kita melakukan pengawasan kepada pemerintah, pengawasan kita itu juga dinilai oleh para malaikat yang mengawasi setiap gerak hati, kata-kata, dan tindakan kita. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*