LiputanIslam.com –Perhelatan Pilpres yang sangat menguras energi dan emosi bangsa ini usai sudah. Kamis, 27 Juni, Mahkamah Konstitusi telah menyampaikan keputusannya bahwa pasangan Jokowi – KH. Ma’ruf Amin  dinyatakan sebagai pemenang pilpres, dan akan menduduki jabatan presiden dan wakil presiden hingga lima tahun ke depan. Keputusan tersebut diikuti dengan penetapan secara resmi oleh KPU. Keduanya tinggal menunggu masa pelantikan yang akan dilakukan tanggal 20 Oktober nanti.

Pilpres tahun ini memunculkan fenomena menarik di mana kekuatan gerakan Islam yang penuh dengan ghirrah dan kebanggaan muncul mewarnai setiap tahapan pemilu. Kita mengenal GNPF Ulama serta Gerakan 212 berikut para alumninya. Mereka lalu memunculkan gerakan Ijtima Ulama tiga jilid.

Demo bergelombang dengan atribut Islam yang kental menjadi topik hangat perbincangan serta diperdebatkan di ruang-ruang publik. Islam menjadi semakin diperhitungkan sebagai kekuatan yang tidak bisa diremehkan.

Sayangnya di sela-sela kemunculannya itu, muncul stigma buruk. Ada kesan yang sangat kuat bahwa kelompok ini lebih banyak mengandalkan emosi dan ghirrah ummat Islam, minus kedewasaan atau kematangan dalam bertindak. Akibatnya, ghirrah tersebut berubah menjadi energi negatif. Islam dikesankan sebagai kekuatan destruktif yang penuh dengan amarah. Kebanggaan berubah menjadi kesombongan. Kepedulian berubah menjadi kebencian.

Stigma negatif lainnya adalah soal fanatisme buta yang menggiring ummat Islam memiliki pandangan hitam-putih atas fenomena di sekelilingnya. Siapapun yang sejalan dengan pemikiran dan pendapatnya adalah “orang kita” atau “saudara seiman”, yang harus dibela, tanpa memperhitungkan kapasitas dan profesionalitas. Sebaliknya, mereka yang berbeda akan harus disingkirkan dan dihujat habis-habisan.

Padahal, menjadi seorang Muslim sebenarnya adalah beban dan tanggung jawab, bukan semata-mata sebuah kehormatan mendapatkan hidayah. Seorang Muslim pastilah akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah, sampai sejauh mana dia menjaga kehormatan agama Islam.

Sampai di tingkatan ekstrem, ada kelompok Muslim yang terjerumus ke dalam faham takfirisme. Siapa saja yang  berbeda faham akan dicap kafir, dengan segala macam konskewensinya yang mengerikan.

Stigma yang paling parah terkait dengan maraknya hoax dan kebohongan, yang ditengarai sebagai kelakuan orang Islam. Nama Muslim Cyber Army (MCA) saat ini punya konotasi buruk sebagai kelompok  penyebar hoax dan fitnah. Mendengar nama ini, orang langsung teringat kepada fitnah bahwa Jokowi adalah PKI, serbuan tenaga kerja asing, larangan berkerudung, larangan mengumandangkan azan, legalitas LGBT, dan lain sebagainya.

Grup-grup medsos seperti WA yang punya brand Islam juga menjadi punya kesan yang buruk, karena menjadi ajang tukar informasi atas berita-berita hoax dan penuh kebencian. Mereka meninggalkan prinsip-prinsip ilmiah dan etika soal kewajiban untuk ber-tabayyun atas informasi apapun yang sampai ke mereka.

Ternyata, menjadi seorang Muslim yang baik itu tak cukup dengan ghirrah dan rasa bangga. Tanpa kedewasaan dalam berpikir dan bertindak; tanpa upaya untuk melakukan konfirmasi atas informasi yang sampai, semangat dan kebanggaan beragama malah akan menjadi petaka. Yang menjadi korbannya bukan hanya Anda, melainkan agama yang mulia ini.

Agaknya, inilah tantangan terberat ummat Islam Indonesia di saat ini. (os/editorial/liputanislam)

Baca:

Polemik Islam Garis Keras

411, Antara Ghirrah dan Penghormatan Hukum

Meski Tak Diberi Izin, Massa Nekat Padati Area Gedung MK

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*