nkri vs bncSemakin mendekati hari-H pilpres, ruang opini publik Indonesia makin disesaki oleh apa yang disebut dengan kampanye negatif (negative campaign) dan kampanye hitam (black campaign). Keduanya terkait dengan upaya yang dilakukan oleh satu kubu untuk menyerang lawan politiknya. Bedanya, jika kampanye negatif didasarkan kepada fakta, maka kampanye hitam berlandaskan kepada fitnah.

Jika kubu Prabowo-Hatta menyerang Jokowi dari sisi bahwa dia belum menyelesaikan masa tugasnya sebagai gubernur Jakarta, itu adalah kampanye negatif. Istilah yang sama juga disematkan kepada upaya kubu Jokowi-JK yang menyerang Prabowo terkait kasus pemecatan yang dialaminya dari dinas ketentaraan pada masa reformasi dulu.

Sementara itu, isu-isu bahwa Prabowo berkewarganegaraan ganda atau menebarkan uang pecahan 10 dan 50 ribu berstempel ‘Prabowo Satrio Piningit’ adalah contoh dari kampanye hitam. Dengan segera ketahuan bahwa itu semua hanyalah isapan jempol. Kampanye hitam terhadap Jokowi juga tak kalah dahsyat. Jokowi diisukan terlahir sebagai non Muslim, bahkan dikatakan berasal dari etnis lain.

Sebagian pengamat menyebut kampanye hitam dengan istilah kampanye kotor. Itu karena konten dari kampanye hitam betul-betul kotor dan busuk. Tak ada secuilpun kebaikan yang ada di dalamnya, selain hawa nafsu yang hanya akan memuaskan setan. Kampanye hitam adalah contoh nyata dari dehumanisasi kita sebagai manusia Indonesia yang bermartabat.

Bahaya lain dari kampanye hitam ekuivalen dengan bahaya fitnah itu sendiri. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, dalam sejumlah literatur Islam, dikatakan bahwa keburukan fitnah lebih dahsyat (asyadd) daripada pembunuhan. Fitnah bisa membunuh karakter, menghancurkan reputasi yang sudah dibangun bertahun-tahun, mengancam kehidupan ekonomi (fitnah bisa membuat seseorang kehilangan pekerjaan), menyuburkan dendam kesumat, serta mengancam keselamatan jiwa. Yang terancam bukan hanya jiwa orang yang difitnah, melainkan juga keluarga dan kelompok.

Sejarah mencatat bagaimana fitnah telah mencabik-cabik persatuan dan melemahkan ummat Islam. Bagaimana pula ribuan nyawa manusia melayang gara-gara fitnah.

Dalam konteks penjagaan atas persatuan inilah, mestinya kita bukan hanya mengkhawatirkan black campaign, melainkan juga negative campaign. Kampanye negatif dalam batas-batas tertentu memang diperlukan untuk menguji serta menyaring kualitas seorang calon. Akan tetapi, watak dari kampanye negatif yang bersifat menyerang dan menjatuhkan, jelas akan menimbulkan perasaan tidak senang kepada pihak yang diserang. Tak akan ada seorangpun yang suka aibnya dibuka dan segala kekurangannya diperbincangkan di depan publik.

Bahkan jika ditelisik lebih dalam lagi, tak akan ada orang yang sudi kekurangan jagoannya diutak-atik oleh siapapun. Pendukung Prabowo pasti memendam ketidaksukaan manakala ada orang-orang yang mengungkit masalah pemecatan dari dinas ketentaraan. Pendukung Jokowi juga siap bertengkar jika bertemu dengan orang yang sibuk mempertanyakan pekerjaan Jokowi yang belum selesai sebagai gubernur DKI.

Harus diingat bahwa ketika sudah berkelompok dan mengikatkan diri dalam sebuah ikatan emosional seperti dukung-mendukung capres, emosi manusia akan berada di tempat yang jauh melampaui rasionalitasnya. Mereka akan dengan mudah meledak.

Inilah yang harus diwaspadai. Even pilpres yang sejatinya adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa bisa-bisa malah berubah menjadi katalisator keterpurukan bangsa, yaitu manakala bangsa ini berkubang dalam rivalitas antar sesama anak bangsa, saling menjatuhkan, serta menciptakan ruang-ruang permusuhan internal.

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL