isis-indonesiaBayang-bayang bahaya ISIS terasa makin menguat bagi bangsa Indonesia, meskipun bagi pemerintah, ISIS masih dianggap sebagai sebagai bahaya potensial. Letak kawasan yang saat ini menjadi wilayah petualangan organisasi teroris ini memang cukup jauh dari Tanah Air, yaitu sekitar 8.000 kilometer. Selain itu, secara geo-politik, Suriah dan Irak tidak termasuk ke dalam zona berdampak langsung bagi Indonesia. Apapun yang terjadi di sana, dianggap tidak akan berpengaruh secara signifikan bagi bangsa Indonesia. Itulah yang tampaknya membuat pemerintah hingga kini masih menganggap ISIS hanya sebatas bahaya potensial.

Hanya saja, berbagai fenomena yang terjadi belakangan ini menunjukkan bahwa ISIS perlahan tapi pasti mulai bergerak dari zona “bahaya potensial” ke arah “bahaya aktual”. Kita tiba-tiba dikejutkan oleh “hilangnya” enam belas WNI di Turki. Mereka tadinya adalah anggota rombongan wisatawan yang memisahkan diri. Diduga kuat, mereka menjadikan kegiatan berwisata itu hanya sebagai kedok bagi tujuan asli mereka, yaitu berangkat ke Suriah atau Irak, untuk bergabung dengan kelompok ISIS.

Ketika keenam belas WNI yang sebagiannya adalah wanita dan anak-anak itu masih dalam proses pencarian, lalu muncul berita bahwa ada WNI yang ditangkap di perbatasan Turki-Suriah. Secara kebetulan, jumlahnya sama, yaitu enam belas orang. Publik lalu bertanya-tanya, berapa orang warga Indonesia yang sudah berangkat ke Suriah. Sebagian pengamat memperkirakan bahwa jumlah mereka mencapai angka tujuh ratus orang.

Lalu, bermunculanlah kabar-kabar yang membuat kita makin miris. Ada serombongan orang yang diming-imingi umrah gratis, tetapi disinyalir sebenarnya mereka sedang diarahkan untuk selanjutnya akan dikirim ke Suriah. Ada pula ibu yang kehilangan putrinya, dan sangat mengkhawatirkan bahwa anaknya itu mengikuti sang pacar yang memang terafiliasi dengan kelompok Islam garis keras. Kemudian, muncul juga pengakuan dari seseorang yang mengaku secara terbuka bahwa dia telah menghabiskan uang sekitar Rp 1 milyar untuk meberangkatkan lebih dari seratus orang ke Suriah.

Berita-berita seperti ini membuat kita semakin khawatir bahwa pergerakan ISIS di Tanah Air ini tidak lagi perlahan, melainkan semakin cepat. Bayang-bayang gelap mereka semakin menguat. Tentu jika dibiarkan, kita mungkin akan bernasib sama dengan sejumlah negara yang mulai kewalahan terhadap keompok ini gara-gara salah bersikap.

Beberapa negara Barat dan Arab awalnya memang sempat melakukan “pembiaran” atas aktivitas kelompok garis keras ini. Bahkan, dalam batas-batas tertentu, mereka cenderung memberikan dukungan, karena aktivitas ISIS sejalan dengan misi mereka di Suriah, yaitu menumbangkan rezim Assad. Akan tetapi, kini mereka kewalahan setelah para alumni ISIS yang sudah mendapatkan pengalaman militer langsung, kembali ke negara masing-masing. Mereka mulai menebar teror dan makin massif menyebarkan ajaran kelompok di negara asal mereka.

Kita tentu mendukung tindakan pemerintah serta berbagai elemen masyarakat seperti ormas Islam yang moderat, yang terus-menerus mengingatkan bahaya ISIS bagi kepentingan bangsa. ISIS yang intoleran tak sepantasnya hidup di negeri ini. ISIS yang gemar menebar fitnah dan kebohongan, adalah virus yang akan memecah-belah kebersamaan bangsa, khususnya ummat Islam di NKRI. (editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*