LiputanIslam.com – Pergelaran Asian Games yang ditutup awal bulan September 2018, dilanjutkan dengan pergelaran ajang olahraga Asia lainnya, yaitu Asian Para Games. Ini adalah olimpiade olahraga tingkat Asia yang diikuti oleh para penyandang disabilitas. Sabtu, 9 Oktober, Presiden Joko Widodo secara resmi telah membuka even ini.

Pesan paling kuat yang ingin disampaikan oleh ajang olahraga ini adalah pemberian kesempatan dan kepercayaan kepada saudara-saudara kita yang menderita kecacatan secara fisik untuk tetap berkarya dan berprestasi. Mereka yang punya keterbatasan fisik pun ternyata punya banyak hal yang bisa mereka pertunjukkan kepada dunia. Ada yang cacat kaki, tapi masih berlomba lari dan sepakbola. Dengan kursi roda, mereka juga bisa mempertontonkan kemampuan mendrible bola basket dan menembakkannya secara tepat. Sambil duduk, mereka masih bisa melakukan smash ataupun blok atas bola volley yang mereka mainkan.

Dalam pandangan Islam, tubuh manusia adalah “bungkus” atas ruhnya. Hakikat manusia ada pada ruhnya, bukan pada tubuhnya. Yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah ruh dulu. Barulah kemudian di saat janin di dalam perut ibu berusia empat bulan, ruh itu dimasukkan (atau “ditiupkan”) oleh Allah kepada sang janin. Karena itu, saat Anda menyaksikan para atlet  berlomba di ajang Asian Para Games, Anda sebenarnya sedang menyaksikan raga-raga yang bergerak; raga-raga yang menjadi bungkus bagi ruh-ruh yang menggerakkan raga tersebut.

Ruh-ruh mereka pada dasarnya tak berbeda dengan kita; ruh-ruh yang tak bercacat, mampu berpikir, merasa, mencintai sesama, dan ingin berbagi cahaya kepada dunia. Jika ruh-ruh tersebut mampu dikembangkan sampai tingkatan yang optimal, mereka bahkan lebih berprestasi atau lebih bermanaat bagi kehidupan dibandingkan kita yang “normal”

Ruh yang menjadi hakikat dari setiap manusia itu mulia. Ruh itu diciptakan oleh Zat Yang Mahamulia, Allah SWT. Tak ada yang sia-sia dari penciptaan-Nya. Dia pasti punya rencana untuk setiap ruh yang Dia ciptakan. Apalagi ini adalah ruh manusia, anak keturunan Adam as. Dulu, seluruh penduduk surga diperintahkan oleh Allah untuk sujud kepada Adam, karena Adam adalah manusia, bukan karena ia adalah seorang nabi. Setiap ruh manusia tercipta dan langsung menjadi mulia, karena punya potensi untuk menjadi makhluk yang disujudi (dipuji dan dimuliakan) oleh semesta.

Momen pergelaran Asian Para Games ini selayaknya bisa menggugah kesadaran terdalam pada jiwa kita semua, bahwa setiap manusia adalah mulia. Mereka yang secara fisik tercipta dalam keadaan cacat pada dasarnya adalah jiwa-jiwa yang mulia.

Pemahaman seperti ini sangat penting, di tengah-tengah situasi dunia yang dipenuhi dengan kekerasan, egoisme, rasisme, dan perendahan terhadap harkat derajat manusia. Pemahaman seperti ini juga penting, karena di tahun politik saat ini, tiap jiwa manusia seringkali hanya dipandang dari sisi bahwa ia bernilai satu suara (one vote). Mereka dianggap ada karena diperlukan untuk mendulang suara. Alangkah naifnya cara pandang seperti itu. Yakinlah, Tuhan pasti marah karena ciptaan terbaik-Nya ditempatkan pada posisi serendah itu. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*