LiputanIslam.com – Asian Games sudah usai. Minggu, 2 september 2018, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla secara resmi telah menutup perhelatan olahraga Asia empat tahunan tersebut. Indonesia mendapatkan apresiasi luar biasa besar dari masyarakat internasional, baik sebagai penyelenggara ataupun dari sisi prestasi para olahragawannya.

Decak kagum dialamatkan kepada bangsa kita. Dari mulai fasilitas yang serba modern, konsep pembukaan dan penutupan yang spektakuler, hingga penyelenggaraan yang sangat rapi, semuanya menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang berkelas dunia. Kita bisa sejajar dengan bangsa-bangsa manapun dalam hal profesionalisme dan kreativitas penyelenggaraan even internasional. Padahal, bangsa yang disebut sebagai bagian dari “Dunia Ketiga”; bangsa dengan penduduk Muslim terbesar di dunia ini, selama ini identik dengan ketidakteraturan, keamatiran, serta minimnya kreativitas.

Kaum Muslimin Indonesia tentunya sangat bangga melihat bagaimana nuansa keislaman begitu mendapatkan tempat di perhelatan Asian Games kali ini. Kita masih ingat bagaimana Kontingen Palestina mendapatkan sambutan spesial dari penonton dan juga pejabat negara Indonesia. Atlet-atlet Muslim (dan tentunya termasuk para atlet Muslim dari Indonesia) bersujud syukur manakala meraih kemenangan. Sebagian olahragawan Muslimah yang berhijab bisa ikut berlaga dengan nyaman di sebagian cabang olahraga, dan sebagian dari mereka meraih prestasi tertinggi dengan menyabet medali emas. Bahkan dalam upacara penutupan, ada doa dilantunkan bagi para korban bencana di Lombok, dan doa-doa tersebut betul-betul sangat “Islami”. Semua nuansa keislaman itu menyatu secara harmonis dengan profesionalisme perhelatan. Inilah Islam dan Indonesia yang berkelas.

Dari sisi prestasi olahragawannya, Asian Games kali ini juga menunjukkan fakta yang betul-betul mengejutkan. Olahraga Indonesia, yang selama dua dekade terakhir ini, bahkan di level Asia Tenggara pun, dicitrakan hanya berada di posisi empat atau lima (di level Asia, kita hanya berada di posisi 17-20), tiba-tiba tampil mengejutkan. Atlet-atlet Indonesia mampu bertengger di posisi empat besar Asia, dengan perolehan 31 medali emas. Kita hanya berada di bawah China, Jepang, dan Korea Selatan.

Dunia berdecak kagum, dan kita sebagai anak bangsa sangat berbangga diri. Dalam bidang olahraga, baik dari sisi prestasi maupun ddi bidang manajemen penyelenggaraan evennya, terbukti sudah bahwa ternyata, kita adalah permata. Selama ini, kilau permata itu terhalang oleh kabut pekat lumpur.  Rakyat Indonesia menyampaikan ucapan terimas kasih kepada semua pihak yang berhasil menyingkap lumpur yang selama ini menutupi kemilau sang permata. Terima kasih kepada para penyelanggara. Terima kasih kepada para atlet. Terima kasih kepada para suporter. Terima kasih kepada semuanya.

Perhelatan Asian Games di tahun ini, kelak akan dicatat sebagai moment sangat krusial, ketika bangsa Indonesia berhasil bangkit dari ketertinggalan, dan meraih masa depan yang gilang-gemilang. Jika dalam bidang olahraga dan kemampuan penyelenggaraan sebuah even kita bisa menunjukkan prestasi kelas dunia, kenapa pula kita tidak bisa berprestasi di bidang-bidang lainnya?

Satu dinding mitos berhasil kita runtuhkan. Dengan keyakinan dan model yang sama, kita akan mampu menghancurkan dinding-dinding mitos lainnya. Insya Allah! (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*