LiputanIslam.com –Bayangkan bahwa ada lebih dari tiga puluh juta (30.000.000) orang berkumpul melakukan ritual yang sama di saat yang sama. Kira-kira, apakah media-media arus utama internasional akan memberitakannya? Mungkinkah momen sebesar itu akan luput dari perhatian media internasional?

Semestinya sih, berdasarkan kepada teori-teori jurnalistik manapun, jumlah sebesar itu tentulah menciptakan sensasi yang sangat menarik untuk diberitakan, atau bahkan mestinya mendapatkan liputan yang sangat besar. Hanya saja, fakta menunjukkan bahwa ada satu momen yang terjadi di Irak, yang berlangsung secara rutin, tiap tahun, dengan jumlah massa yang sangat besar, yaitu lebih dari tiga puluh juta orang, ternyata tidak disentuh sama sekali oleh media internasional. Padahal, Irak selama beberapa dekade ini menjadi salah satu kawasan yang menjadi pusat perhatian dan pemberitaan media-media internasional.

Kalau kita merunut kepada empat dekade terakhir saja, Irak selalu menampilkan sensasi yang sangat menarik untuk diberitakan, terlepas dari apakah sensasi tersebut bersifat positif ataupun negatif. Pada tahun 1980, Irak terlibat perang saudara dengan tetangganya, Iran, selama delapan tahun. Kemudian, di tahun 1990, Irak melakukan aneksasi atas Kuwait dan mengklaim bahwa Kuwait adalah salah satu provinsinya. Atas alasan ini, AS menggalang pasukan multinasional. Irak bukan hanya diusir dari Kuwait, melainkan harus merasakan negaranya dibombardir oleh pasukan koalisi. Sejak saat itu, Irak juga dikenai sanksi ekonomi oleh AS dan sekutu-sekutunya.

Tahun 2003, Irak kembali harus merasakan penderitaan lainnya. Bush Junior, Presiden AS, menggalang dukungan internasional dan menyerang Irak, dengan tuduhan bahwa negara itu memproduksi senjata kimia dan biologis yang terlarang. Belakangan, tuduhan itu sama sekali tidak terbukti, dan para pemicu perang mengakui bahwa tuduhan itu memang tak berdasar. Irak juga diinvasi dengan tuduhan bahwa Saddam bekerja sama dengan jaringan terorisme internasional, Al-Qaeda. Organisasi ini saat itu dituduh terlibat dalam peristiwa teror terhadap menara kembar WTC, di AS.

Irak, pasca invasi tahun 2003 itu menjadi kawasan yang diduduki oleh pasukan militer internasional di bawah pimpinan AS. Kawasan yang kaya akan sumberdaya minyak dan gas itu menjadi salah satu negeri termiskin di dunia.

Pada tahun 2014, di negeri ini, yaitu di kota Mosul, sebuah gerakan paling mematikan di abad ini dideklarasikan. Salah satu faksi dari Al-Qaeda mendeklarasikan pendirian sebuah negara bernama Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Organisasi yang dipimpin oleh seorang bernama Abu Bakar Al-Baghdadi itu menciptakan kengerian yang luar biasa di dunia akibat cara-cara mereka dalam bekerja.

Semua peristiwa yang terjadi di Irak tersebut tentu saja diberitakan dan diliput oleh media-media mainstream internasional.  Akan tetapi, tidak untuk momen Arbain yang berpusat di Karbala, Irak. Kenapa?

Arbain memang unik dan menarik. Ini adalah peringatan empat puluh hari (arba’in dalam bahasa Arab bermakna empat puluh) dari peristiwa tragis Asyura. Kalau Asyura diperingati merujuk peristiwa terbunuhnya Husein bin Ali (cucu Baginda Nabi SAW), Arbain diperingati merujuk kepada momen kunjungan pertama (ziarah) dari para pengikut Husein bin Ali kepada pusara Husein. Di saat itu, para pengikut Husein bin Ali bersumpah untuk terus mengenang peristiwa kematian Husein, demi menghidupkan apa yang mereka yakini sebagai cita-cita perjuangan Husein.

Jadi, jika Anda melihat dari dekat peringatan Arbain yang diadakan di Irak, Anda akan menyaksikan ritual napak tilas rombongan Husein bin Ali. Puluhan juta orang melakukan long march puluhan kilometer. Yang paling populer adalah perjalanan dari Najaf (pusara Ali bin Abi Thalib) dengan jarak tempur sekitar 80 kilometer. Selama dalam perjalanan hingga tiba di kota Karbala, mereka bukan hanya melantunkan syair-syair kesedihan mengenang peristiwa tragis terbunuhnya Husein, melainkan juga meneriakkan yel-yel perjuangan serta perlawanan terhadap apa yang mereka yakini sebagai “musuh Husein di masa kini”.

Di sepanjang jalan yang menghubungkan kota-kota ke Karbala, Anda akan menemukan spanduk-spanduk berisikan pernyataan kebencian kepada Amerika dan Zionis (sesekali ada juga ditampilkan gambar para penguasa monarki Arab). Gambar-gambar di Suriah, Yaman, dan Palestina yang mereka sebut sebagai korban kekejaman Amerika dan Zionis, juga mendominasi jalanan menuju Karbala.

Jadi, kalau momen kolosal Arbain ini sampai tidak diliput secara proporsional oleh media-media arus utama Dunia, tentu kita dengan mudah bisa memahami penyebabnya. Sekali fakta ini diungkap, meskipun diliput dengan nada yang negatif sekalipun, maka satu pintu kotak pandora akan terbuka.

Begitulah memang cara kerja media arus utama. Kalau mereka menyatakan bahwa mereka bekerja secara netral, terlalu banyak fakta yang menunjukkan bahwa itu hanyalah slogan belaka. Moment Arbain menunjukkan bahwa demi kepentingan para pemodal, mereka tak segan-segan melakukan distorsi, bahkan sampai tahapan yang paling elementer: penyangkalan terhadap eksistensi dan fakta. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*