LiputanIslam.com – Pernyataan Presiden Amerika Donald Trump terkait nasib pemeritahan Arab Saudi yang akan jatuh dalam waktu kurang dari dua minggi, jika tak ada perlindungan Amerika, memantik perdebatan di dunia Islam. Banyak yang menolak, dan mengatakan bahwa pernyataan itu hanyalah salah satu gimmick politik internasional Trump yang memang sering menunjukkan sikap arogan.

Pernyataan itu juga dirasakan menohok ummat Islam. Bagaimanapun juga, masih banyak pihak yang memandang Arab Saudi sebagai representasi ummat Islam, karena negara ini menjadi pengelola dua kota paling suci bagi ummat Islam: Mekah dan Madinah. Ummat Islam bergantung sepenuhnya kepada Amerika? Apa kata dunia? No way!

Pangeran Arab Saudi Mohammed bin Salman sendiri mencoba memberikan tanggapan. Tapi, tanggapannya itu bersifat mengambang. Di satu sisi, dia menolak stigma Arab Saudi sebagai negara yang lemah. Dia bahkan menyatakan bahwa Arab Saudi telah berdiri sebelum Amerika Serikat dideklarasikan. Tapi di sisi lain, dia juga mengakui persekutuan erat antara kedua negara, serta bantuan yang teramat sering didapatkan Arab Saudi dari Amerika.

Jika kita melihat masalah ini dari sisi politik, sangat sulit untuk menolak pernyataan Trump. Kenyataannya, Arab Saudi memang pemerintahan yang bisa dikatakan cukup rapuh. Tanpa adanya proteksi dari negara sekuat Amerika, sangat mungkin rezim ini akan jatuh dalam waktu yang tak terlalu lama.

Arab Saudi adalah negara berbentuk monarki yang bermakna bahwa dukungan rakyat kepada pemerintahan bukan hal yang penting. Sampai sekarang, tak pernah ada jajak pendapat (apalagi pemilu) yang bisa dijadikan ukuran, sampai seberapa besar rakyat  Arab Saudi mendukung pemerintahannya. Padahal, indikasinya, banyak sekali kebijakan pemerintahan Arab Saudi yang bersifat kontroversial serta berpotensi menciptakan ketidakpuasan di tengah-tengah rakyatnya.

Beberapa di antara kebijakan tersebut adalah: pertama, keterlibatan rezim ini dalam menginisiasi dan mendanai kelompok-kelompok teroris. Kemudian, yang kedua, adalah sikapnya yang sangat lunak dan cenderung abai terhadap kejahatan Zionis Israel terhadap kaum Muslimin Palestina. Kemudian, yang ketiga Arab Saudi juga melakukan invasi ke Yaman. Terakhir, kebijakan pemerintah Arab Saudi dianggap kontroversial karena melakukan pembungkaman terhadap para pengkritiknya. Dalam kasus terakhir, Jamal Khashoggi, seorang penulis kritis, hilang tanpa kabar, setelah masuk ke Konsulat Jenderal Arab Saudi di Turki.

Dengan semua indikator tersebut, kalaulah saat ini digelar jajak pendapat terhadap rakyat Arab Saudi dengan pertanyaan apakah rakyat mendukung pemerintahan, atau, apakah rakyat puas dengan kebijakan pemerintahan, kemungkinan besar jawabannya adalah “tidak”. Bagaimanapun juga, rakyat Arab Saudi adalah kaum Muslimin yang secara fitrah memiliki harga diri dan kebanggaan sebagai Muslim. Mereka tentu tahu bahwa harta yang banyak saja tak akan memberikan kebahagiaan manakala harta tersebut tak bisa membantu saudara-saudara seiman yang menjadi korban kekerasan, di mana negara mereka terlibat dalam proses kekerasan tersebut. Sulit membayangkan bahwa rakyat Arab Saudi merasa bangga dengan negara dan pemerintahannya. Bahkan, mungkin banyak di antara mereka yang merasa malu.

Maka, pernyataan Trump beberapa hari lalu itu bisa jadi memang sangat relevan dan faktual. Tanpa proteksi Amerika dan sekutu-sekutu Baratnya, rezim Saudi sangat sulit untuk bisa bertahan. Dari luar, Rezim Saudi pasti kewalahan menghadapi Yaman, Suriah, Qatar, dan mungkin juga Iran. Sementara itu, pemerintahan Arab Saudi tidak memiliki dukungan yang kuat dari rakyatnya sendiri.

Mana ada rakyat yang bangga pada negaranya yang dilecehkan oleh negara lain, dan disebut sedemikian lemahnya, hingga tak akan mungkin bisa bertahan tanpa perlindungan? (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*