moath-al-kasasbaMeskipun amat-sangat terlambat, kesadaran itu mulai muncul juga. Jordania, negara sekutu tradisional Amerika Serikat, mulai merasakan sengatan jilatan api milisi ISIS. Jilatan api yang dimaksud betul-betul bermakna harfiah, manakala Muath al-Kaseasbeh, seorang pilot Jordania, dibakar hidup-hidup oleh ISIS. Hal tersebut diketahui lewat video berdurasi 20 menit yang di-upload di internet.

Tentu saja reaksi sangat keras ditunjukkan oleh pemerintah Jordania. Kutukan, sumpah serapah, dan ancaman pembalasan pun berhamburan. Rakyat Jordania marah. Mereka bersumpah akan melakukan pembalasan, bukan hanya kepada pelaku pembakaran, melainkan seluruh anggota ISIS. Pemerintah juga sama. Juru Bicara Angkatan Bersenjata Yordania Mamdouh Al-Ameri mengatakan bahwa hukuman dan pembalasan dari pihaknya akan setara dengan rasa kehilangan yang dialami warga Yordania.

Duka dan kemarahan Jordania itu menyusul kegeraman yang sama dari Negeri Matahari terbit, Jepang. Kenji Goto, satu sandera yang tersisa yang merupakan warga negara Jepang (menyusul sandera sebelumnya yang bernama Haruna Yukawa), akhirnya memang betul-betul dibunuh dengan cara yang juga sadis: kepalanya dipenggal. Pelakunya juga sama, yaitu ISIS. Kontan saja seluruh rakyat Jepang juga marah. Mata PM Shinzo Abe berkaca-kaca menahan amarah saat mengucapkan kalimat pendek, “Jepang tak akan pernah memaafkan ISIS.”

Itu adalah kemarahan yang sangat wajar. Bangsa manapun pasti akan murka menyaksikan saudara sebangsanya dibantai dengan cara keji; ditambah lagi proses pembantaiannya itupun dipertontonkan secara biadab lewat tayangan video.

Hanya saja, tanpa mengurangi rasa simpati kepada rakyat dan bangsa Jordania maupun Jepang; juga tanpa mengurangi dukungan kita kepada aksi kedua negara untuk melakukan pembalasan atas brutalitas ISIS, kita tentu harus mengingatkan kedua negara (dan sejumlah negara lainnya) bahwa ISIS tidak lahir dari ruang kosong. Ada konteks yang melatarbelakangi kelahiran milisi ini, dan itu tidak lain adalah konflik di Irak dan Suriah.

Berbicara mengenai konflik dan krisis berkelanjutan di Irak dan Suriah, sejarah mencatat bahwa Jordania dan Jepang, baik secara langsung atau tidak langsung, memang punya andil. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Jordania termasuk di antara negara yang terang-terangan memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok oposisi dan pemberontak Suriah, termasuk para petempur ISIS. Bahkan, jumlah warga Jordania yang ikut menjadi petempur asing di Suriah mencapai angka ratusan orang.

Adapun Jepang, kita tentu masih ingat kasus merebaknya “Gerakan Boykot Toyota” di beberapa negara dunia. Gerakan boykot itu muncul dan membesar dipicu oleh keresahan masyarakat oleh fenomena “invasi Toyota” di Irak. Dalam serangan ISIS saat merebut kota Mosul dan beberapa kota lainnya pertengahan tahun lalu, ISIS pamer mobil-mobil bak terbuka yang masih “gres” merek Toyota.

Keberadaan mobil-mobil Toyota itu sangat mencolok mata. Dalam kondisi baru, seragam dengan warna putih sebagaimana kendaraan misi perdamaian PBB, keberadaan mobil-mobil itu menimbulkan pertanyaan tentang asal-usulnya. Juga muncul pertanyaan, sejauh mana Jepang sebagai negeri asal mobil-mobil itu, terlibat dalam pemberian dukungan senjata kepada ISIS.

Kita tentu tidak ingin larut dengan terus mempersalahkan Jordania dan Jepang sebagai negara yang pernah terlibat dalam membesarkan ISIS. Yang kita inginkan adalah kesadaran sejumlah pihak di Tanah Air Indonesia, yang masih terus saja memberikan pembelaan dan toleransi terhadap aksi-aksi brutal ISIS, mumpung jilatan api ISIS belum menyentuh Tanah Air. Siapapun Anda, selama Anda tidak berada di medan tempur bersama mereka, Anda tetap dianggap sebagai orang luar yang juga harus diperangi. (editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL