Foto: kemenagabes.wordpress.com

Foto: kemenagabes.wordpress.com

Ummat Islam di berbagai penjuru dunia pada tanggal 10 Dzulhijjah merayakan Idul Adha atau Idul Qurban, di mana salah satu ritual paling signifikannya adalah penyembelihan hewan kurban. Kaum Muslimin sejatinya tahu bahwa prosesi penyembelihan hewan kurban ini lahir sebagai simbolisasi atas pengorbanan yang dulunya dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s.

Dulu, Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu luar biasa aneh dari Tuhannya. Wahyu yang disampaikan melalui mimpi yang benar itu berupa perintah agar ia menyembelih anaknya sendiri, Ismail. Kedua manusia mulia itu lantas memenuhi perintah tersebut. Lalu, Allah mengganti objek sembelihan menjadi seekor kambing.

Atas dasar peristiwa itulah, dan juga peristiwa-peristiwa lainnya, penyembelihan kurban menjadi salah satu rukun dalam rangkaian ibadah haji. Adapun bagi mereka yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, penyembelihan ini disyariatkan sebagai salah satu ibadah sunnah.

Baik bagi para mereka yang sedang menunaikan ibadah haji, ataupun bagi kaum Muslimin lainnya, penyembelihan ini hanyalah simbol atas perilaku Nabi Ibrahim. Tak ada satupun orang yang berkurban (baik yang di Mina atau di tempat manapun di seluruh penjuru negeri) yang betul-betul meniru secara lengkap seluruh perisitiwa yang dialami Nabi Ibrahim. Tak ada yang disuruh menyembelih anaknya dulu, lalu barulah objek sembelihannya itu diganti. Tak ada yang mengalami perang batin hebat untuk memilih antara menjalankan perintah Allah atau menjaga nyawa anak semata wayang.

Tapi, berkurban sejatinya memang simbol dari sikap baik yang harus diambil manusia sepanjang hidupnya. Hidup tak pernah selalu lurus-lurus saja dan hanya menghadirkan mono-choise. Manusia sepanjang hidupnya sering dihadapkan kepada dilema untuk memilih. Terkadang pilihan itu sangat ekstrem: antara yang hak dan yang batil, tapi terkadang pilihannya sangat samar, yaitu memilih di antara dua hal yang kelihatannya baik.

Berkurban adalah memilih yang benar di atas yang salah, atau memilih yang lebih benar di atas yang benar. Hal yang salah dan kurang benar kita korbankan demi untuk mengutamakan kebenaran di sisi Tuhan, meskipun yang kita korbankan itu adalah hal-hal kita cintai. Semakin berat perasaan kita dalam menyisihkan yang kita korbankan itu (biasanya karena sangat besarnya kecintaan kita kepada hal tersebut), semakin tinggi pula nilai pengorbanan kita.

Lalu, mana yang Anda kurbankan dalam berbagai pilihan hidup kita? Perhatikanlah, betapa seringnya perilaku berkurban dilakukan dengan objek yang salah. Ada anak-anak muda yang mengorbankan masa depan demi memuaskan kepentingan sesaat. Ada juga yang mengorbankan kepentingan rakyat dan negara demi kepentingan pribadi dan golongan. Bahkan, ada juga yang menyembelih hewan kurban demi pencitraan. Uang untuk membeli hewan kurban itu didapat dari hasil korupsi. Untuk kasus seperti ini, orang tersebut mengurbankan kepentingan akhiratnya demi memperoleh kepentingan dunia yang sesaat dan palsu, meskipun bentuk pengurbanan hari akhiratnya itu adalah dengan menyembelih hewan kurban.

Apapun, selamat Hari Raya Qurban! Semoga kita mampu meresapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. (editorial/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL