LiputanIslam.com –Aksi protes turun ke jalan terkait dengan hasil pemilu 2019 berakhir dengan kerusuhan. Ada delapan orang yang dikabarkan tewas, dan ratusan lainnya luka-luka. Ratusan orang ditangkap dengan tuduhan melakukan kekacauan. Aksi kerusuhan itu diwarnai dengan penyemprotan gas air mata dan upaya pembubaran masa secara paksa.

Di sisi lain, di pihak keamanan juga jatuh korban luka yang berjumlah ratusan. Ada yang engsel tangannya lepas, ada yang terkena lemparan batu hingga berdarah-darah. Lalu, sejumlah mobil milik polisi di Markas Brimob Petamburan terbakar. Beberapa fasilitas publik rusak, dan ada juga penjarahan.

Baca: Program Aiman Kompas TV Ungkap Rahasia Demo Rusuh 22 Mei

Ada sebagian orang yang membandingkan aksi kerusuhan pekan lalu itu dengan apa yang saat ini terjadi di Palestina. Bagi sebagian orang ini, para demonstran disamakan dengan para pejuang Palestina, sedangkan pihak kepolisan disamakan dengan serdadu Zionis Israel.

Tentu saja perbandingan ini terlalu dipaksakan. Berbagai faktor yang mewarnai aksi kerusuhan 21 dan 22 Mei itu terlalu jauh kalau mau disamakan dengan aksi perjuangan rakyat Palestina. Dari mulai motif, aktor-aktor, eskalasi bentrokan, tingkat ‘kemazluman’, dan faktor-faktor lainnya, tak mudah untuk menyamakan kedua peristiwa ini secara serta-merta.

Kalaupun mau dibandingkan, aksi kerusuhan 21-22 Mei lalu itu jauh lebih mirip dengan kejadian pra krisis Suriah. Kita lihat apa yang terjadi di Suriah. Awalnya, krisis di Suriah dipicu oleh isu kekuasaan negara. Di Suriah, para pendemo awalnya meneriakkan tuntutan turunnya Assad dari kursi kepresidenan. Assad disebut sebagai rezim diktator.

Akan tetapi, tuntutan agar Assad turun yang awalnya bermotifkan masalah demokrasi dan ekonomi, tak lama kemudian berubah. Assad lalu digoyang isu sektarian: bahwa dia adalah penguasa penganut Syiah Alawiah yang menzalimi dan membantai Muslimin Sunni.

Kemudian, krisis Suriah semakin memuncak ketika muncul para “penumpang gelap”. Mereka adalah ratusan ribu jihadis asing dari sekitar 100 negara dunia. Tidak main-main, mereka yang memiliki fasilitas finansial dan senjata lengkap itu bahkan sempat mampu mendeklarasikan sebuah negara bernama ISIS.

Krisis Suriah juga memuncak ditandai dengan munculnya banyak hoax dan fitnah dalam skala yang luar biasa mengerikan. Ada ratusan gambar dan video palsu yang diproduksi untuk mendiskreditkan Assad. Gambar dan video tersebut sebenarnya terkait dengan peristiwa di negara lain (gempa bumi di Azerbaijan, kecelakaan lalu lintas di Turki, korban tewas di Irak, kekejaman Zionis di Palestina, atau kasus malnutrisi anak-anak Yaman). Semua foto dan video itu disebut sebagai bukti dari kekejaman rezim Assad.

Terakhir, dalam krisis Suriah, ada organisasi kemanusiaan bernama White Helmet. Organisasi ini belakangan terbukti terafiliasi dengan kelompok-kelompok teroris yang berkedok sebagai organisasi kemanusiaan. Mereka mengobati para teroris. Mereka mendokumentasikan pesan-pesan teroris dan menyebarkannya ke dunia. Fasilitas yang mereka miliki (rumah sakit darurat dan mobil-mobil ambulans) bisa berubah dengan cepat menjadi fasilitas pengangkut logistik kaum teroris. Dan yang paling fenomenal, White Helmet juga terlibat dalam pembuatan video dan gambar rekayasa (hoax).

Baca: Polisi Temukan Amplop 6 Juta di Ambulan Partai Sekitar Massa

Tidakkah faktor-faktor yang kita saksikan di Suriah ini juga kita temukan dalam aksi kerusuhan 21-22 Mei lalu?

Tentu saja, secara keseluruhan, ada sejumlah perbedaan antara kedua peristiwa itu. Hanya saja, kalau mau dibuatkan perbandingan, kerusuhan 21-22 Mei pastilah lebih mirip krisis Suriah, ketimbang aksi perjuangan rakyat Palestina. Wallahu a’lam. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*