bencanaBencana kembali melanda negeri di penghujung tahun ini. Ketika banjir di Jakarta, Bandung, dan sejumlah kota lainnya masih menyisakan duka; ketika orang-orang masih membincangkan kebakaran di pasar kota Solo dan Wonosobo; ketika kepedihan akibat tewasnya sejumlah orang akibat longsor di Banjarnegara belum mereda; bangsa ini kembali menerima kabar duka terkait kecelakaan pesawat terbang

Pesawat AirAsia QZ8501, tipe Airbus A320, yang terbang pada Minggu pagi dari Surabaya menuju Singapura, dinyatakan hilang dan hingga kini belum ada jejaknya. Berselang beberapa saat setelah lepas landas, pesawat yang membawa ratusan orang itu tiba-tiba hilang kontak dengan petugas pengontrol lalu lintas udara Singapura.

Sebagai orang beriman, tentu saja kita akan mengatakan bahwa semua bencana itu tidak lepas dari kehendak Allah. Kita percaya bahwa setiap musibah yang kita alami pastilah berada dalam konteks teologis. Bencana bisa jadi merupakan ujian, atau teguran, atau azab dari Allah. Itu semua akan sangat bergantung kepada posisi spiritual individu masing-masing.

Sebagai manusia biasa, kita tidak bisa memvonis bahwa bencana ini merupakan azab bagi orang yang mengalaminya. Kita hanya bisa mengetahuinya secara persis konteks teologis apa yang melatarbelakangi sebuah bencana jika hal tersebut menimpa kita. Dengan demikian, sebuah bencana menjadi entry point bagi sebuah perenungan, agar kualitas keimanan dan ketakwaan kita terus bertambah.

Akan tetapi, agama tidak melulu berbicara tentang masalah konteks teologis sebuah peristiwa bencana. Agama juga menyuruh kita untuk berusaha sekuat tenaga menghindari bencana. Wa laa tulquu biaydiikum ilat-tahlukah –jangan kalian jerumuskan diri sendiri ke dalam kehancuran. Ini adalah perintah Allah di dalam Alquran. Di sini, karena menghindari bencana adalah perintah wajib, maka bencana menjadi ajang ibadah. Upaya kita dalam menghindari peristiwa bencana akan dinilai sebagai bentuk pengabdian kepada Allah. Sebaliknya, kelalaian atau sikap abai kita terhadap ancaman bencana akan berbuah dosa.

Salah satu upaya logis dalam menghindarkan kita dari bencana adalah mempelajari sebab-sebab terjadinya sebuah bencana. Ketika sebuah bencana sudah terjadi, dan kita segera mencari tahu penyebabnya, itu adalah tindakan yang terpuji dalam agama. Untuk itulah maka kita mesti mendorong semua pihak untuk mengungkap penyebab hilangnya pesawat AirAsia itu. Apalagi hingga saat ini, banyak hal yang masih merupakan misteri hingga dianggap kejanggalan.

Di antara kejanggalan-kejanggalan itu adalah sebagai berikut. Pertama, mengapa dalam kondisi cuaca buruk komunikasi bisa langsung terputus? Padahal, pesawat itu tersebut diproduksi tahun 2008 dan dikenal sangat canggih. Salah satu kecanggihannya, dalam kondisi cuaca bagaimanapun, pesawat masih tetap bisa berkomunikasi.

Adapun kejanggalan kedua terkait dengan fakta bahwa tidak pernah dalam sejarah penerbangan modern, pesawat bisa jatuh karena turbulensi di atas ketinggian 30.000 feet. Kejanggalan ketiga yang mengemuka terkait dengan belum juga ditemukannya pesawat hingga kini. Padahal, andaikan yang terjadi adalah human error maka area jatuhnya pesawat akan sangat mudah diketahui karena pesawat terbang di atas jalur sempit atau selat, bukan di kawasan samudra yang luas.

Kita tentu mendorong semua pihak terkait agar terus menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan tadi. Ingat, mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini adalah bentuk lain dari ibadah kepada Allah. (editorial/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL