LiputanIslam.com –Gerbang tahun 1440 Hijriah telah dibuka, dan ummat Islam memasukinya bersama-sama. Di banyak tempat, kaum Muslimin menyambut perguliran waktu ini dengan sikap optimis bahwa Islam tengah bangkit menjadi kekuatan dunia. Sudah empat puluh tahun berlalu dari permulaan abad 15 Hijriah. Dulu, pergantian abad itu menjadi isu sangat penting yang memberikan inspirasi bagi ummat Islam yang tengah berjuang untuk bangkit dari keterpurukan.

Ada sejumlah indikator terkait dengan isu kebangkitan ummat Islam di masa empat puluh tahun yang lalu ini. Di antaranya adalah perubahan isu perlawanan Palestina terhadap penjajahan Zionis Israel. Sebelumnya, Palestina dan negara-negara Arab lainnya bisa mengalami kekalahan beruntun dalam setiap peperangan melawan Israel. Di masa itu, isu yang dipakai untuk melawan Zionis Israel adalah nasionalisme. Isunya adalah perlawanan ‘bangsa’ Arab (Palestina) melawan Israel. Akan tetapi, sejak pertengahan tahun 70-an, isunya berubah menjadi perlawanan ummat Islam Palestina dalam rangka merebut kembali hak-hak mereka yang dirampas oleh Israel. Sejak saat itu, perlawanan menjadi semakin berbobot dengan tingkat solidaritas yang mendunia.

Munculnya para mujahidin di Afghanistan dalam rangka melawan Rezim boneka buatan Uni Sovyet juga menjadi indikator berikutnya dari isu abada kebangkitan Islam. Lalu, yang juga sering disebut-sebut sebagai indikator paling fenomenal, adalah keberhasilan seorang ulama sepuh bernama Ruhullah Khomeini yang berhasil menggulingkan sistem monarki Iran, dan menggantikannya dengan sebuah sistem religius “Republik Islam”. Iran yang tadinya merupakan sekutu terdekat Amerika dan Israel, tiba-tiba saja berubah menjadi musuh utama kedua kekuatan imperium dunia.

Sejak saat itu, Islam betul-betul kembali menunjukkan kekuatannya di dunia. Gaung revivalisme Islam semakin sering dibicarakan. Buku-buku karya para pemikir Muslim seperti Muthahhari, Syariati, Thabathabai, Muhammad Al-Ghazali, atau Yusuf Qaradhawi, diterjemahkan ke dalam berbahasa, dan menjadi bahan kajian para mahasiswa Muslim di berbagai belahan dunia.

Islam menggeliat, bangkit, dan melancarkan tantangan sangat serius terhadap berbagai pilar peradaban Barat. Ketika Uni Sovyet runtuh, Islam menjadi satu-satunya blok kekuatan di dunia yang menjadi penantang Barat. Maka, lahirlah thesis dari seorang futurolog Barat bernama Samuel Huntington terkait dengan “benturan peradaban” (the clash of civilization). Ia meramalkan bahwa kelak, Barat dan Islam akan terlibat dalam perang peradaban, memperebutkan siapa yang akan memimpin dunia.

Tentu ada riak-riak hambatan. Barat yang telah berkuasa berabad-abad di atas panggung peradaban dunia, berusaha menghambat laju kebangkitan Islam tersebut. Mereka menginisiasi dan mendanai pembentukan berbagai kelompok radikal dengan tujuan untuk memecah-belah persatuan internal ummat Islam; juga dengan target menciptakan stigma yang buruk terhadap apa saja yang berbau “kebangkitan Islam”. Maka, muncullah Al-Qaeda, ISIS, Jabhah Al-Nusra, dan berbagai kelompok jihad palsu lainnya. Gara-gara semua itu, Afghanistan, Libya, dan Suriah menjadi porak-poranda.

Akan seperti apakah nasib dari gerakan kebangkitan Islam itu? Waktulah yang akan menjawabnya. Kalau kita melihat gelagat lahiriah, kita bisa bersikap optimis. Menjadi tugas kita untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Kita harus tetap teguh dan yakin bahwa Islam adalah peradaban dunia di masa depan, masa yang sebenarnya tidak begitu jauh.

Selamat Tahun Baru 1440 H. Kullu ‘aamin wa antum bikhairin. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*