libya paratroopTripoli, LiputanIslam.com — Pemerintah Libya, hari Minggu (18/5) menetapkan zona larangan terbang di atas kota Benghazi menyusul bentrokan massal antara pasukan paramiliter dengan militan Islam yang telah menewaskan 43 orang dan melukai lebih dari 100 orang.

Sebagaimana dilaporkan BBC, penetapan zona larangan terbang oleh panglima militer Libya itu ditujukan untuk mencegah pasukan paramiliter (semi-militer) menggunakan pesawat terbang untuk melawan kelompok militan Islam. Namun masih diragukan bagaimana militer akan mengimplementasikan larangan tersebut.

Dalam bentrokan sengit yang terjadi hari Jumat (16/5), pasukan paramiliter yang dipimpin oleh pensiunan jendral Khalifa Haftar menggunakan setidaknya satu helikopter untuk menyerang kelompok militan. Pasukan Haftar juga menyerang serangan darat terhadap kelompok-kelompok militan di Benghazi.

Haftar mengatakan bahwa meski tentaranya kini menarik diri, namun operasi militer akan diteruskan hingga Benghazi bebas dari para “teroris”.

“Kami akan kembali dengan pasukan kami,” kata Haftar kepada reporter di Abyar, kota kecil di timur Benghazi.

“Kami telah memulai pertempuran ini dan kami akan melanjutkannya hingga kami berhasil meraih tujuan kami. Jalanan dan rakyat Libya bersama kami,” tambahnya.

Pada hari Sabtu jubir Jendral Hafter menyerukan penduduk di tiga kota di sebelah barat Benghazi yang menjadi basis kelompok militan, untuk mengungsi.

Sementara di ibukota Tripoli, Ketua Parlemen merangkap komandan militer Nuri Abu Sahmain menuduh jendral Hafter tengah melakukan percobaan kudeta.

Menurut koresponden BBC, sebagian militer dan AU Libya menjadi pendukung paramiliter. Kedua kelompok bersenjata itu terlibat pertikaian rutin dengan kelompok-kelompok militan.(ca/bbc)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL