yanukovych2Moskow, LiputanIslam.com — Mantan presiden terpilih Ukraina yang terguling tahun lalu, Victor Yanukovych, mengaku berada di Krimea setelah tersingkir dari kekuasaannya melalui aksi-aksi demonstrasi anarkis.

Pada saat itu, ia menghadapi 2 pilihan, yaitu mengobarkan perang saudara untuk mempertahankan kekuasaannya atau pergi untuk menghindari pertumpahan darah. Dan ia memilih yang terakhir. Hal itu disampaikan Yanukovycy dalam wawancara dengan BBC, yang dilansir oleh Sputnik News, 23 Juni.

Ini adalah wawancara pertama Yanukovych dengan media barat setelah penggulingannya pada bulan Februari 2014.

“Jika saya tidak melakukannya (meninggalkan Krimea), sangat mungkin kondisi di Krimea akan seperti yang kini terjadi di Donbass (Ukraina timur). Mungkin bahkan hal yang sama terjadi di wilayah-wilayah lain di Ukraina. Akan terjadi perang saudara besar-besaran,” kata Yanukovich.

“Apa yang lebih baik bagi rakyat Krimea, perang atau damai?” Katanya lagi sembari menambahkan bahwa keputusan meninggalkan Ukraina adalah sesuatu yang sangat berat baginya.

Pernyataan ini mengkonfirmasi pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin beberapa waktu yang lalu bahwa ia telah memerintahkan pasukan khusus Rusia untuk menyelamatkan Yanukovych setelah tersingkir.

Ia menyebut apa yang terjadi di Krimea yang memisahkan diri dari Ukraina, dan diikuti oleh gerakan separatisme di Ukraina timur adalah disebabkan rakyat di wilayah-wilayah tersebut takut dengan aksi-aksi biadab para pelaku penggulingan terhadap dirinya.

“Di setiap negara dan di setiap bagian dunia, rakyat akan memilih damai. Itu yang terjadi ketika rakyat Krimea menggelar referendum (pemisahan), rakyat takut dengan masa depan mereka dan anak-anak mereka. Rakyat Krimea tidak ingin kelompok radikal Maidan memerintah mereka,” kata Yanukovych.

Hal yang sama terjadi di Ukraina timur, ketika rakyat kedua provinsi, Donetsk dan Luhansk, melepaskan diri dari Ukraina.

Tentang apa yang terjadi di kedua wilayah ini, Yanukovych menyebutnya sebagai pembantaian massal (genosida) oleh penguasa di Kiev.

“Apa yang terjadi di Donbass (Donetsk dan Luhansk) adalah genosida terhadap rakyat Donbass. Dan itu dilakukan oleh mereka yang mengerahkan tank-tank dan meriam untuk menembaki warga sipil,” katanya.

Yanukovych yang juga berasal dari Donbass, mengakui ingin kembali ke tempat kelahirannya sebagaimana manusia lainnya.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL