demo akbar di sanaa yaman

Demo Akbar di Sanaa Yaman

LiputanIslam.com—Setelah berlalu satu tahun tujuh bulan, agresi Arab Saudi di Yaman tak jua berhenti, namun perlawanan rakyat negeri itu juga tak pernah pupus. Pekan lalu, pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi membombardir para pelayat di Sanaa, ibu kota Yaman, yang menyebabkan lebih dari 140 orang meninggal dunia, dan sekitar 525 lainnya luka-luka. Serangan ini tercatat sebagai peristiwa tunggal yang paling mematikan selama Saudi dan sekutunya menyerang Yaman sejak Maret 2015.

Di antara bentuk sikap pantang menyerah adalah terlibatnya warga Yaman dalam perjuangan melawan invasi Saudi. Pasca tragedi Sanaa, mereka secara serius dilatih oleh militer. Juru bicara militer Yaman Brigjen Sharaf Luqman menyatakan bahwa pelatihan rakyat Yaman telah dimulai  agar mereka bisa ikut berjuang mengangkat senjata melawan pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi.

“Pelatihan militer rakyat di barak-barak sudah dimulai agar mereka dapat bergabung di front pertempuran. Pasca tragedi Sanaa, kami harus memberikan balasan telak dan pelajaran besar kepada agresor Saudi,” ungkapnya dalam wawancara dengan channel al-Manar yang bermarkas di Lebanon, Senin (10/10/2016).

Yaman, negara yang sebenarnya amat miskin ini, tanpa diduga mampu bertahan melawan gempuran Saudi dan sekutunya, termasuk Israel. Bahkan mereka berhasil mengembangkan rudal dalam jumlah besar yang akan digunakan untuk menghantam berbagai sasaran di wilayah Arab Saudi. Selain itu, mereka bahkan mampu menerobos masuk ke wilayah Saudi sejauh 20 km.

Hal ini tentu kontradiktif dengan kondisi Saudi sendiri yang kini hampir bangkrut karena membiayai agresi Yaman. Saudi sudah mengeluarkan banyak uang untuk membeli senjata,membayar pasukan bayaran, serta menyuap negara-negara tertentu agar mau bersekutu dengannya, serta lembaga internasional agar tidak menjatuhkan sanksi.

Menurut Juru bicara militer Yaman Brigjen Sharaf Luqman, perbedaan di antara kedua kubu ini adalah motivasinya. Saudi mengagresi Yaman didorong oleh kerakusan dan ketundukan pada sekutunya, yaitu AS dan Israel, sehingga akhirnya menjadi lemah dan nyaris kehabisan uang. Sebaliknya warga Yaman berjuang dengan tekad membela tanah air, sehingga mereka justru semakin solid dari hari ke hari.

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Yaman?

Permusuhan antara Bani Saud dan Yaman sudah dimulai bahkan sejak 1926. Dalam perjanjian Mekkah kala itu, keemiran Idris Barat Daya, yang meliputi Asir, Jizan dan Najran resmi dicaplok Kerajaan Saudi Arabia yang baru dibentuk Inggris.

Wilayah tersebut merupakan wilayah alami Yaman sejak lama, dan perlawanan untuk merebut kembali wilayah itu sering terjadi dari waktu ke waktu. Namun dengan kekuatan Barat dan pemimpin yang korup, upaya Yaman selalu gagal, seperti tergambar dalam perjanjian Taif pada 1934.

Meski Yaman sempat didukung penuh oleh pemimpin Mesir, Gamal Abdul Nasser, namun upaya perlawanan tradisional rakyat Yaman tak kunjung membuahkan hasil, dan akhirnya kembali mentah saat presiden mereka sendiri, Saleh, memupuskan harapan dengan tandatangan pada perjanjian Jeddah pada tahun 2000, yang konon bernilai 18 miliar dolar, untuk menyerahkan Asir, Jizan dan Najran pada Bani Saud.

Pemerintahan Yaman yang tunduk kepada Barat dan Saudi telah bersikap despotik dan keji kepada rakyatnya. Terbukti, kesenjangan ekonomi antara si kaya dan miskin di Yaman sangatlah besar. Padahal, Yaman berdiri diatas jalur minyak terbaik di dunia, yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat. Yaman juga memiliki 30% cadangan minyak dunia, jumlah yang kini melebihi cadangan Bani Saud. Namun faktanya, sebagian besar warga Yaman adalah orang-orang miskin. Di sinilah gerakan Houthi mendapatkan momentumnya. Pendiri gerakan ini, Badreddin Houthi, melalu menekankan bahwa sumber kesengsaraan rakyat Yaman adalah pemimpin yang berkolaborasi dengan AS dan Israel.Gerakan ini juga menyediakan pendidikan gratis bagi masyarakat karena pendidikan adalah kunci penting bagi tercapainya kemerdekaan hakiki.

Seiring dengan bergolaknya Arab Spring, gerakan Houthi dengan dukungan rakyat dari berbagai faksi dan mazhab berdemo masif sampai akhirnya Presiden Saleh yang telah berkuasa 33 tahun melarikan diri ke Arab Saudi, dan digantikan oleh Mansur Hadi. Namun, Mansur Hadi tidak melakukan reformasi politik dan ekonomi seperti yang dijanjikan, malah bekerjasama lagi dengan Saleh. Rakyat pun berdemo lagi, sampai kemudian Mansur Hadi memilih lari ke Arab Saudi dan meminta bantuan militer dari Saudi. Sejak 26 Maret 2015, Arab Saudi dibantu negara-negara Teluk dan Israel, serta didukung oleh AS membombardir Yaman.(fa)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL