bachar-victoire450New York, LiputanIslam.com — Harian The Washington Post AS dengan jujur mengakui bahwa Presiden Suriah Bashar al – Assad berada dalam posisi yang lebih kuat daripada sebelumnya untuk menumpas kelompok bersenjata yang melawan pemerintahannya.

Dengan dukungan penuh sekutunya dan kekacauan di pihak internal musuh, Bashar al- Assad dipastikan maju dalam pemilu untuk dipilih kembali, dengan masa jabatan tujuh tahun ke depan,  sementara mempertahankan tekanan militer secara intensif kepada teroris bertujuan untuk menghancurkan lawan-lawannya. Menurut WP, strategi ini tidak baru, tapi dalam beberapa bulan terakhir ini telah menampakkan hasilnya, menghasilkan kemajuan signifikan walau  lambat tapi stabil di beberapa bidang penting.

Yang paling menonjol, pemerintah telah mendorong kelompok bersenjata untuk mundur  atau ‘mengisolasi’ mereka dalam medan perang di  sebagian besar wilayah Damaskus, mengurangi kemungkinan pihak  oposisi bersenjata untuk mengancam pemerintah.

“Tidak ada lagi harapan. Tidak ada harapan untuk menguasai wilayah, tidak ada harapan di kancah politik. Jika pemberontak berhasil memenangkan peperangan, maka itu hanyalah karena faktor keajaiban,” kata Abu Emad, menggunakan nama samaran untuk melindungi identitasnya.

Tingkat kemajuan telah sedemikian rupa sehingga Bashar al- Assad merasa cukup percaya diri pekan ini untuk melakukan perjalanan 20 mil di luar Damaskus, melalui wilayah yang dikuasai kelompok bersenjata dalam dua tahun terakhir. Di pinggiran timur laut dari Adra, ia mengunjungi para pengungsi, menjanjikan mereka bantuan dan berjanji untuk memenangkan peperangan.

Tapi kemungkinan berkembang bahwa al- Assad akan dapat menenangkan cukup negara untuk mempertahankan cengkeramannya pada kekuasaan dan mengklaim kemenangan, kata Jeffry White seorang analis militer di Institut Washington.

Menurut Jeffry White, “Kemungkinan rezim Assad  menang dalam peperangan ini sangat terbuka,” katanya. “Hal Iitu dipengaruhi oleh banyak faktor: Assad terus mendapatkan dukungan dari Hizbullah dan Iran, tidak ada intervensi dari luar, pemberontak tidak terorganisir dan tidak mempunyai persenjataan baru,” ucap analis di Institut Washington.

Perpecahan  di antara pemberontak juga sangat menguntungkan pemerintah Suriah. Sebuah pertempuran sengit pada bulan Januari terjadi  antar kelompok-kelompok bersenjata. ISIL yang berafiliasi dengan al-Qaeda, bertempur dengan perwakilan resmi al-Qaeda di Suriah yaitu al-Nusra yang menyebabkan meningkatnya darah yang tumpah di Suriah bagian utara. Manariknya, komando pusat al-Qaeda menolak keberadaan ISIL di Suriah. Begitu juga dengan Dewan Agung Militer yang didukung oleh Amerika Serikat, telah terpecah menjadi dua kubu yang berseteru setelah penggulingan komandannya Jenderal Salim Idriss.

Liwa al-Tauhid, kekuatan kelompok bersenjata terbesar di Aleppo kehilangan 500 orang anggotanya dalam hitungan minggu. Meningkat tajam dari jumlah tewasnya 1.300 anggota al-Tauhid selama dua tahun memberontak. Menurut informasi, satuannya terpecah selama konfrontasi dengan ISIL, dengan beberapa batalyon mendukung memerangi ekstremis  dan yang lain menentang. Hal ini sungguh sensitif. “Hal ini telah merengut korban yang banyak, dan rezim mendapatkan keuntungan penuh. Saat ini, Allepo hampir terlepas,” demikian keluh seorang anggota brigade.

 Sementara itu di lain pihak, Damaskus kini tengah bersiap menyambut pemilu pada bulan Juli, sesuai dengan konstitusi Republik Arab Suriah. (LiputanIslam.com/af)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*