Venezuela's President Nicolas Maduro (C) waves a Venezuelan flag during a rally to commemorate the 26th anniversary of the social uprising known as 'Caracazo', which Venezuela's late President Hugo Chavez said marked the start of his revolutionCaracas, LiputanIslam.com — Ribuan warga Venezuela, hari Kamis (12/3), menggelar aksi massa besar-besaran di berbagai kota mengecam campur tangah AS di negara itu sembari menunjukkan dukungannya kepada Presiden Nicolas Maduro.

Seperti dilansir Press TV, Jumat, para pendukung Maduro berkumpul di ibukota Caracas untuk menyatakan dukungannya kepada Maduro yang tengah terlibat perselisihan dengan AS setelah Maduro menuduh AS terlibat dalam komplotan yang hendak mengkudeta dirinya. Aksi serupa berlangsung di beberapa kota lain.

“Maduro, pastikan menendang yankee (AS) dengan keras!” teriak massa dalam aksi itu.

Yankee, pulanglah!” Sambung mereka.

Sementara dalam pidatonya di depan peserta aksi di Caracas, Maduro menyebut AS sebagai “ancaman nyata bagi dunia”, sekaligus membantah klaim AS yang menyebut Venezuela sebagai ancaman keamanan AS.

“Rakyat kita menolak agresi imperalisme pemerintahan AS. Ini adalah gelombang keberanian karena tidak ada kekuasaan manapun yang bisa mengalahkan kekuatan rakyat Venezuela,” kata Maduro.

Komentar Maduro itu berselang beberapa hari setelah AS mengeluarkan sanksi terhadap 7 pejabat Venezuela. AS menuduh para pejabat itu telah melanggar hak-hak oposisi dan orang-orang yang kritis terhadap pemerintah Venezuela.

Sanksi tersebut berupa pemblokiran aset-aset para pejabat itu di AS dan larangan warga negara AS untuk berbisnis dengan mereka. Mereka juga dilarang pergi ke AS.

Tidak hanya itu, AS juga mendeklarasikan “keadaan darurat nasional” karena ancaman Venezuela.

Baru-baru ini Venezuela memerintahkan AS untuk mengurangi jumlah diplomatnya di Kedubes AS di Caracas menjadi 17 orang. Jumlah itu sama dengan diplomat Venezuela yang bekerja di kedubes di Washington DC. Sebelumnya jumlah diplomat AS di Venezuela mencapai 100 orang.

Dalam beberapa bulan terakhir, Maduro berulangkali menuduh AS terlibat konspirasi untuk menggulingkan dirinya. Kedua negara tidak memiliki duta besar di kedubes mereka masing-masing sejak tahun 2010.

Tahun lalu kelompok oposisi dukungan AS menggelar aksi demonstrasi besar-besaran menuntut pengunduran diri Maduro. Aksi tersebut merengut puluhan orang, termasuk demonstran dan aparat keamanan. Pada tahun 2002, pendahulu Maduro, Presiden Hugo Chavez, bahkan dikudeta oleh kelompok oposisi dukungan AS sebelum pasukan militer yang loyal kepadanya membebaskannya dari tahanan dan mengembalikan kekuasaannya.

Media-media independen seperti Voltairenet.org melaporkan, sekelompok tokoh oposisi dan agen-agen inteligen AS merencanakan kudeta terhadap Maduro pada tanggal 12 Februari. Rencana itu berhasil digagalkan oleh inteligen militer Venezuela yang loyal kepada Maduro.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*