tolikaraJakarta, LiputanIslam.com–Perdamaian digelar di Tolikara, Papua ditandai dengan jabat tangan dan pelukan antara Pemimpin Umat GIDI, Klasis Toli, Pdt Yunus Wenda dan Ustad H. Ali Muktar. Acara perdamaian digelar pada Rabu (22/7/2015) di lapangan Koramil Tolikara, disaksikan Bupati Tolikara, Usman G Wanimbo dan Muspida Kabupaten Tolikara.

“Kami minta maaf telah menyakiti hati saudara-saudara kami umat muslim. Ini karena kekhilafan untuk itu mohon permasalahan ini cukup di sini saja. Kita harus bersatu kembali seperti  yang lalu,” kata Pdt Yunus Wenda, seperti diberitakan Detik.com.

Ucapan itu disambut baik Ustad Ali Muktar, dia juga mohon maaf atas apa yang sudah terjadi, dan dia berharap kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi di Tolikara ini.

“Kami juga mohon maaf atas kekhilafan yang sudah terjadi. Kami sangat mengharapkan tidak akan pernah lagi terjadi seperti ini. Mari kita bersama-sama membangun kerukunan seperti yang selama ini terjadi di Tolikara ini,” sambutnya.

Salaman dan pelukan yang dilakukan kedua  pemimpin umat itu disambut tepuk tangan hadirin.

Bantuan untuk Korban

Korban penyerangan di Tolikara hingga kini telah mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Presiden Joko Widodo telah menyatakan akan memberi bantuan senilai 1 Milyar Rupiah. Sementara Bupati Tolikara Usman G Wanimbo sudah menyerahkan bantuan sementara berupa uang, lauk pauk, dan tenda.

Penyerahan bantuan dilakukan pada Sabtu (18/7) oleh Bupati Tolikara Usman G Wanimbo. Bantuan awal bagi para korban kebakaran yang berada di tenda penampungan berupa uang Rp 100 juta, selain itu  bupati juga telah menyerahkan bantuan berupa beras dan lauk pauk.

“Bagi  korban yang ditampung di tenda, sambil kita menyelesaikan semua permasalahan dan menunggu pembangunan kembali rumah dan kios, kita juga telah menyiapkan tempat tinggal sementara bagi mereka dibekas kantor bupati Tolikara,” kata Usman Wanimbo.

Sementara itu, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa pada Selasa (21/7) telah mengunjungi dan meninjau lokasi kebakaran dan kondisi warga yang mengungsi. Mensos mengatakan, sejumlah bantuan untuk para pengungsi sudah diserahkan terutama kebutuhan dasar dan permakanan.

“Kita memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi,” kata Mensos, seperti dilansir Antaranews.com.

Mensos juga menyerahkan bantuan kerudung kepada kaum perempuan yang mengungsi.

Usai meninjau kondisi pengungsi, Mensos juga melihat kondisi salah seorang korban kerusuhan yang mengalami luka tembak dan dirawat di RSUD Karubaga.

Kepada korban, Mensos menyerahkan santunan sebagai bentuk perhatian pemerintah. Di samping itu, Kemensos akan menyiapkan tenaga pekerja sosial untuk memberikan penanganan terhadap dampak trauma akibat kejadian tersebut terutama untuk anak-anak dan lanjut usia.

“Sesuai SOP Kemensos kalau ada diantara mereka yang rukonya terbakar maka ada hak mereka untuk mendapatkan renovasi,” katanya.

Dia menjelaskan, terkait dengan dampak dari bencana sosial menjadi tugas Kemensos untuk menanganinya terlebih lagi ada warga yang mengungsi.

“Ada 153 warga yang terkonfirmasi ada di dua titik pengungsian yaitu di Koramil dan di belakang polres setempat,” katanya.

Data yang diterima Mensos, sebanyak 63 ruko dan satu musholla terbakar, 38 KK atau 153 jiwa mengungsi. Peristiwa tersebut terjadi tepat saat pelaksanaan shalat Idul Fitri pada Jumat (17/7) (dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL