golan druzeAmman, LiputanIslam.com — Warga Suriah di dataran Golan, pada hari Jumat (14/2) melakukan aksi demonstrasi menentang aneksasi yang dilakukan Israel atas wilayah mereka tahun 1981.

Dalam peringatan ulang tahun aneksasi Israel tersebut, warga Suriah Golan menyatakan penolakan atas aneksasi Israel sebagai tindakan ilegal dan invalid.

“Kami di sini untuk menyatakan bahwa Dataran Tinggi Golan merupakan bagian dari Suriah dan penjajah Israel harus pergi,” kata seorang demonstran kepada media Iran Press TV.

Warga juga menegaskan penolakan mereka untuk menerima kewarganegaraan Israel sebagai ganti kewarganegaraan Suriah setelah aneksasi Israel. Sebaliknya, mereka menyatakan dukungan bagi pemerintahan Bashar Al Assad dan militer Suriah dalam konflik berdarah yang kini melada Suriah melawan pemberontak dukungan negara-negara barat serta sekutu mereka di kawasan.

Israel menduduki Dataran Golan yang merupakan wilayah Suriah dalam perang tahun 1967 dimana  Israel juga menduduki wilayah Tepi Barat, Gaza, Sinai dan Jerussalem. Alih-alih mengembalikan wilayah tersebut ke negara pemiliknya, pada tahun 1981 Israel menganeksasi wilayah tersebut sebagai wilayahnya, meski langkah tersebut tidak diakui masyarakat internasional karena secara terang-terangan melanggara konvensi internasional.

DK PBB melalui resolusi nomor 497 menolak aneksasi Israel atas Golan dan menyatakannya sebagai wilayah pendudukan.

Warga Yordania Menolak Rencana Amerika atas Palestina

Sementara itu pada hari yang sama, ribuan warga Yordania di ibukota Amman melakukan aksi demonstrasi menolak rencana Amerika terkait nasib bangsa Palestina.

Para demonstran membakar bendera Israel dan menyerukan seruan anti-Amerika. Mereka juga menyerukan Raja Yordania untuk mencabut perjanjian damai dengan Israel yang ditandatangani tahun 1994, pada saat Raja Yordania tengah berada di Amerika untuk bertemu Presiden Barack Obama.

Para demonstran juga mengecam Menlu Amerika John Kerry, yang menjadi promotor perjanjian damai Palestina-Israel yang dianggap mereka hanya memberikan keuntungan bagi Israel dengan mengorbankan kepentingan Palestina dan Yordania.

Menurut berbagai sumber terpercaya, dalam draft perjanjian damai Palestina-Israel yang kini dipromosikan oleh John Kerry ditetapkan Palestina akan mengakui Israel sebagai negara yahudi dengan imbalan pengembalian wilayah Jerussalem Timur sebagai ibukota Palestina. Selain itu “hak kembali” dan ganti rugi bagi para pengungsi Palestina akibat pendudukan Israel, akan diganti dengan penampungan mereka di beberapa negara Arab dan non-Arab. Yordania adalah negara yang paling banyak harus menampung pengungsi Palestina.

Pada bulan September 2010 perundingan Palestina-Israel untuk menyelesaikan masalah bangsa Palestina dan hubungannya dengan Israel, mengalami kebuntuan setelah Israel menolak menghentikan pembangunan pemukiman-pemukiman yahudi di wilayah Palestina yang diduduki di Tepi Barat dan Jerussalem Timur, yang seharusnya dikembalikan ke Palestina.

Saat ini terdapat sekitar 500.000 warga Israel yang tinggal di 120 pemukiman ilegal di wilayah pendudukan. Hal ini menjadi penghambat terbesar perundingan damai Palestina-Israel.(ca/press tv/afp)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL