mujuruHarare, LiputanIslam.com — Wapres Zimbabwe Joyce Mujuru membantah laporan media massa tentang rencana kudeta terhadap Presiden Robert Mugabe. Ia bahkan mengancam akan menuntut media massa yang telah menyebarkan berita tersebut.

“Saya membantah semua pernyataan tentang pengkhianatan, korupsi, ketidak mampuan serta penyalahgunaan kewenangan yang ditujukan kepada diri saya oleh surat kabar Herald dan Sunday Mail,” kata Wapres Mujuru dalam pernyataan pers, Senin (17/11).

Ia juga memerintahkan pengacaranya untuk melakukan tindakan hukum yang diperlukan untuk memulihkan reputasinya.

Pernyataan itu disampaikan setelah munculnya kabar di media massa tentang keterlibatannya dalam rencana pembunuhan terhadap President Robert Mugabe yang memberi jalan bagi Mujuru untuk mengambil alih kekuasaan.

Bulan lalu, Mugabe yang telah berkuasa sejak kemerdekaan Zimbabwe tahun 1980 dan kini telah berusia 90 tahun, mengatakan tidak akan mundur dari jabatannya.

Mugabe dan Mujuru adalah mantan sekutu dekat, namun hubungannya memanas akhir-akhir ini terkait dengan suksesi kepemimpinan di partai penguasa Zanu-PF yang akan menggelar kongres bulan depan.

Ibu negara, Grace Mugabe kini telah tampil di panggung politik dan secara terbuka menyerang  Mujuru dan menuntutnya untuk mundur. Pengamat memperkirakan Mugabe tengah mempersiapkan istrinya itu sebagai calon penggantinya. Dalam berbagai kesempatan Grace menuduh Mujuru sebagai “setan pemecah belah” dan “pemeras perusahaan-perusahaan”.

Meski Mujuru tidak menyebutkan rencananya untuk mundur, kini ia menghadapi tekanan keras dan hanya memiliki sedikit pilihan. Demikian BBC News melaporkan, Senin (17/11).

Selama ini Mujuru dan Menteri Kehakiman Emmerson Mnangagwa, yang di masa lalu mengontrol polisi dan militer, dianggap sebagai kandidat pengganti Mugabe. Namun kemunculan Grace Mugabe ke panggung politik dengan mencalonkan diri sebagai ketua sayap wanita Partai Zanu-PF dianggap menjadi penghambat ambisi Mujuru.

Bulan lalu Mugabe mengatakan tidak akan menyerahkan kekuasaan kepada politisi muda yang tidak menghargai perjuangannya melawan kolonialisme dan imperalisme.

Pada tahun 1970-an Mujuru bergabung dengan pasukan gerilyawan pimpinan Mugabe melawan pasukan kolonialis Inggris. Nama samarannya kala itu adalah “Teurai Ropa” alias “darah yang tumpah”.

Pada tahun 1977, atau 3 tahun sebelum kemerdekaan Zimbabwe, ia menikah dengan Solomon Mujuru, mantan jendral berpengaruh pada tahun 1970-an. Pada tahun 2011 Solomon meninggal karena kebakaran di peternakannya.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL