central-africaBangui, LiputanIslam.com –Hadja Aissatou, juru bicara sebuah kelompok wanita muslimah di Bangui  dalam sebuah pernyataan, Rabu (19/8) mengatakan bahwa wanita muslim hingga kini hidup dalam ketakutan di ibukota negara Republik Afrika Tengah yang masih diliputi ketegangan dan bahaya itu.

Aissatou mengatakan mereka menghadapi banyak sekali bahaya,  selain ketakutan ditangkap oleh militan kristen yang biasa dikenal dengan nama anti-Balaka, para wanita ini juga takut tertangkap oleh kelompok pendukung pemberontak ex-Seleka.

“Kami tak lagi bisa menghirup udara bebas, dan itulah mengapa kami minta dipindahkan keluar dari negeri ini,” ucapnya.

Menurutnya sangat menyedihkan melihat bagaimana mereka kini dipaksa hanya tinggal di area antara masjid dan pasar yang berjarak  sekitar 5 kilometer. Khawatir akan tertangkap bila keluar dari area tersebut.

Ia juga menyatakan bahwa para muslim ini harus menghadapi ketidak-amanan semenjak konflik pecah 5 Desember 2013. Dan itu adalah tanggal dimana ketika militan Kristen anti Balaka melancarkan serangan terhadap para pemberontak ex-Seleka, yang mayoritas muslim.

Moussa Adam, seorang muslim, mengatakan bahwa situasi keamanan tidak pernah stabil, sehingga kondisi kehidupan bagi orang-orang Islam terus memburuk.

“Kami selalu terancam, kami harus meninggalkan kota ini,” katanya
.
Kekejaman anti-Muslim meningkat tajam di Afrika Tengah ketika Catherine Samba-Panza, seorang Kristen, terpilih sebagai presiden interim di bulan Januari lalu.

Menurut laporan Badan HAM, militan Kristen telah melakukan aksi-aksi kekerasan terhadap muslim hingga menelan korban ratusan bahkan ribuan jiwa diantara mereka. Kekerasan itu juga  memaksa ratusan ribu lainnya meninggalkan kampung halaman. Di kota Bangui sendiri semula ada 8 masjid, namun kini hanya tinggal 1 masjid saja yang masih utuh.(lb/negerianbulletin)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*