Man stands near tank in Slavyansk, UkraineSlavyansk, LiputanIslam.com — Walikota Slavyansk, salah satu kota di Ukraina timur yang membangkang terhadap pemerintah Ukraina di Kiev, meminta Rusia mengirimkan pasukan ke kotanya untuk melindungi dari ancaman serangan pemerintah. Permintaan disampaikan setelah terjadinya kontak senjata di kota tersebut yang menewaskan beberapa orang.

Komandan milisi yang diangkat penduduk menjadi walikota Slavyansk, Vladimir Ponomaryov, menyampaikan permintaan itu hari Minggu (20/4).

“Mereka membunuh rakyat kami. Mereka tidak mau berbicara, hanya membunuh,” kata Ponomaryov dalam konperensi pers darurat yang digelar setelah terjadinya tembak menembak di pinggiran kota, Sabtu malam (19/4).

“Kota ini telah dikepung oleh Right Sector (kelompok neo-Nazi Ukraina),” tambahnya seperti dikutip kantor berita RIA Novisti.

Menurutnya hanya Rusia yang dapat melindungi penduduk dari Right Sector, sehingga mendorongnya untuk mengajukan permintaan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengirim pasukan penjaga perdamaian ke kota-kota Ukraina timur yang membangkang.

Ponomaryov menyebutkan dalam aksi tembak-menembak yang terjadi antara milisi kota dengan pasukan Ukraina dan kelompok Right Sector, seorang anggota milisi dan 7 pasukan Ukraina tewas setelah pasukan Ukraina menyerang sebuah pos penjagaan yang dibentuk para milisi.

Pihak Ukraina sendiri mengkonfirmasi seorang anggota pasukannya dan 2 milisi lokal tewas dalam kontak senjata di pos penjagaan di luar Slavyansk, demikian laporan RIA.

Penduduk kota-kota berkultur Rusia, Kharkov, Donetsk, Gorlovka, Slavyansk dan Kramatorsk telah menolak mengakui legitimasi pemerintah di Kiev dan menuntut diselenggarakannya referendum untuk memisahkan diri dan bergabung dengan Rusia sebagaimana wilayah Krimea. Sebagai responnya, pemerintah Ukraina melancarkan operasi militer untuk merebut kota-kota itu dari milisi setempat.

Rusia Marah dan Mengancam
Sementara itu menanggapi aksi kekerasan yang terjadi di Ukraina timur yang sebagian besar penduduknya berkultur dan berbahasa Rusia, Kemenlu Rusia mengeluarkan kecemannya kepada rezim Ukraina.

“Kami marah dengan tindakan provokasi oleh para militan yang mengindikasikan rezim Ukraina di Kiev tidak berniat untuk melucuti senjata para ekstremis dan nasionalis,” demikian pernyataan Kemenlu Rusia, hari Minggu (20/4).

“Ini sangat mengejutkan bahwa tragedi ini terjadi setelah ditandatanganinya perjanjian 17 April Genewa oleh wakil-wakil dari Rusia, AS, Uni Eropa dan Ukraina, yang menyerukan pengendalian diri semua pihak dari tindakan-tindakan, intimidasi dan provokasi.

Di sisi lain, jubir kepresidenan Rusia, Dmitry Peskov, mengingatkan NATO bahwa segala langkah untuk mendekatkan kekuatan NATO ke perbatasan Rusia akan mendapatkan respon serius dari Rusia.

“Jika organisasi ini (NATO) datang lebih dekat ke perbatasan kami, secara naluri Rusia akan terdorong untuk melakukan langkah-langkah untuk menjaga keamanannya,” kata Peskov.

Pernyataan ini menanggapi langkah-langkah NATO untuk meningkatkan kekuatannya di negara-negara yang berdekatan dengan perbatasan Rusia. Di antara langkah tersebut yang paling mencolok adalah pengiriman 10.000 pasukan NATO di Polandia.(ca/voice of russia)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL