Gennady KernesKharkiv, LiputanIslam.com — Tensi politik di Ukraina makin meningkat setelah Walikota Kharkiv, Gennady Kernes, ditembak dari belakang oleh orang tak dikenal.

“Dokter sedang berjuang untuk menyelamatkan nyawanya,” tutur juru bicara Wali Kota Kharkiv, Tatiana Gruzinskaya, seperti dikutip Reuters dari Interfax Ukraina, Senin (28/4).

Dokter sedang mengoperasi wali kota di kota terbesar kedua di Ukraina setelah Kiev itu. Kernes ditembak orang tak dikenal saat jogging di Senin pagi tadi. Sekitar pukul 11.30 waktu setempat, Kernes baru dibawa ke rumah sakit lokal.

Penembakan Kernes ini terjadi setelah bentrokan antara golongan ultranasionalis dengan antipemerintah di kota itu yang menyebabkan 14 orang terluka.

Kernes adalah pendukung kuat mantan Presiden Victor Yanukovych. Namun setelah Victor terguling dari kekuasaannya bulan Februari lalu, Kernes berbalik mendukung rezim baru di Kiev. Sementara tugas walikota Kharkiv kini dipegang oleh Sekretaris Kota Aleksandr Novak.

Kondisi politik di wilayah Ukraina secara global masih tegang pasca Krimea bergabung dengan Rusia. Pemerintahan Ukraina yang didukung negara Barat meyakini bahwa Rusia terlibat dalam pemberontakan separatis di wilayah timur Ukraina itu.

Pada Kamis (24/4), otoritas Rusia mengumumkan peluncuran latihan militer di perbatasan dengan Ukraina. Menurut Rusia, latihan militer ini sebagai tanggapan atas operasi antiteroris yang digelar Ukraina dalam melawan pemberontak pro-Kremlin.

Diperkirakan ada sekitar 40 ribu tentara Rusia yang disiagakan di perbatasan. Secara terpisah, NATO melaporkan, tentara-tentara Rusia tersebut dalam kondisi siap menyerang kapan saja.

Di Ambang Perang Besar

Media-media utama Rusia seperti RIA Novosti dan Russia Today, hari Sabtu dan Minggu (27/4), melaporkan adanya mobilisasi kekuatan militer besar-besaran Ukraina di sekitar kota-kota Ukraina timur yang membangkang.

Dalam laporan tersebut disebutkan tank-tank, kendaraan pengangkut lapis baja, artileri dan peluncur roket telah ditempatkan di luar kota Slavyansk, Provinsi Donetsk.

Berdasarkan analisa gambar satelit serta informasi dari inteligen Rusia, RIA Novisti menghitung setidaknya ada 160 tank, 230 kendaraan lapis baja, 150 artileri dan peluncur roket termasuk “Grad” dan “Smerch”, serta 15.000 pasukan, di sekeliling kota Slavyansk saja.

Menanggapi perkembangan yang terjadi, Menhan Rusia Sergey Shoigu pada hari Kamis (24/4) mengatakan bahwa Rusia “terpaksa” melakukan reaksi dengan mengadakan latihan perang di dekat perbatasan Rusia-Ukraina.

“Perintah untuk menggunakan kekuatan terhadap penduduk sipil telah dikeluarkan, dan jika mesin-mesin perang itu tidak berhenti, jumlah korban akan bertambah besar,” kata Shoigu dalam pertemuan dengan pejabat-pejabat keamanan Rusia di Moskow.

Para analis percaya bahwa reaksi yang diberikan Rusia dengan penggelaran latihan perang, telah membuat rencana serangan militer Ukraina terhadap kota-kota yang membangkang, ditunda. Serangan yang dilakukan militer Ukraina baru sebatas menyerang pos-pos penjagaan milisi pro-Rusia, dan kemudian mengundurkan diri.

Namun, desas-desus itu dibantah oleh Menhan Ukraina Mikhail Koval, hari Sabtu (26/4), menyatakan bahwa operasi militer di Ukraina timur tetap berjalan sesuai rencana, meski mengakui agak lambat.(ca/russia today)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL