warga Karanggayam, Sampang, saat diusir dari desa mereka

warga Karanggayam, Sampang, saat diusir dari desa mereka

Surabaya, LiputanIslam.com – Setelah dua tahun lebih terusir dari kampung halamannya, akhirnya Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf mempersilakan warga penganut Syiah asal Sampang yang mengungsi di Sidoarjo pulang ke kampung halaman mereka.

Menurut Saifullah, kepulangan bisa dilakukan secara alamiah jika situasi dinilai sudah kondusif. Ia juga menyampaikan, kepulangan tidak boleh dilandasi oleh pemaksaan, termasuk dari pihak Pemprov Jatim.

“Kalau mereka memaksa ingin pulang, ya silahkan saja, asal suasananya sudah aman dan kondusif,” ujar Saifullah, berbicara sebagai narasumber dalam seminar bertema “Pemolisian dan Resolusi Konflik pada kasus Kekerasan Berlatar Belakang Agama” yang diadakan Kontras di Hotel JW. Marriot Surabaya, Rabu 12 November 2014 seperti dilansir Republika.

Saifullah menuturkan, bahwa selama ini Pemprov Jatim telah berupaya memberikan perlindungan pada warga Syiah Sampang sebagai pemenuhan tanggung jawab pemerintah. Saifullah berharap, tragedi konflik komunitas agama, seperti di Sampang pada 2012 lalu dapat menjadi pelajaran, dan tidak boleh terulang lagi.

“Agama janganlah dijadikan pemicu konflik. Untuk itu, marilah kita berjabat tangan dan menjadikan  agama  itu sebagai sumber inspirasi yang positif guna membangun bangsa dan negara. Jangan sampai sesama  Islam tetapi berkotak-kotak dan tidak rukun serta menjadi pemicu kerusuhan di negeri sendiri,” ujar Saifullah.

Hadir dalam acara, koordinator pengungsi Syiah Sampang Iklil Al Milal menyampaikan, upaya kembalinya warga Syiah Sampang ke kampung halaman terus dilakukan. Mesi begitu, Iklil sedikit menyesalkan, proses kepulangan secara alamiah justru terhambat oleh aparat dan pemerintah.

“Ada yang pernah pulang beberapa hari. Situasi aman, biasa saja. Tapi malah diminta pergi lagi sama polisi dengan alasan situasi belum aman” ujar Iklil.

Iklil menjelaskan, hingga saat ini, warga Syiah Sampang di pengungsian, yakni di Rusunawa Puspa Agro Sidoarjo, masih berharap besar bisa pulang dan hidup kembali di kampung asal, yakni di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang. Menurut Iklil, warga Syiah Sampang yang mayoritas petani ingin kembali hidup normal seperti dahulu.

“Kami juga tidak yakin, apakah pemerintah akan memberikan bantuan selamanya. Bantuan terakhir saja, sebesar Rp 709000 per jiwa sudah telat. Biasanya tanggal 3 atau empat, sekarang sudah tanggal 12 belum (diberikan),” ujar Iklil.

Tragedi Syiah Sampang terjadi pada Agustus 2012, saat itu, berdatangan massa yang melakukan tindak kekerasan kepada warga Syiah, membakar dan mengusir mereka dari kampung halamannya. Dari laporan Suara Pembaruan, setidaknya 60 unit rumah hangus terbakar, dan seorang warga tewas dibacok. Warga penganut mazhab Syiah ini dianggap sesat atau bukan Islam.

Seperti diketahui bersama, Syiah Ja’fari dan Zaidi diakui sebagai mazhab yang sah dalam Islam menurut  Risalah Amman.  Sementara itu, Habib Ali al-Jufri, ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, juga menyatakan dengan tegas, bahwa musuh Sunni – Syiah adalah pihak-pihak yang menghendaki keduanya (Sunni-Syiah)  bermusuhan. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL