Foto: Merdeka

Foto: Merdeka

Serang, LiputanIslam.com – Usianya telah senja, tapi nenek ini masih setia menjaga pintu kereta api tak berpalang di perlintasan Kampung Kemang, Kecamatan Cipocok, Serang,Banten.

“Kadang ada yang nakal juga masisinisnya nggak bunyiin klakson kalo lewat, sama saya dikepal keun perep (kepalkan tangan). Paling masinisnya pada ketawa, karena sudah pada tau dan kenal,” ujar nenek yang bernama Masmatum ini.

Tiga puluh tahun lamanya Masmatum bekerja sukarela. Hal tersebut dia lakukan semenjak dirinya menggunakan sebidang tanah milik PT Kereta Api Indonesia untuk membangun rumah bersama keluarganya.

Aktivitasnya menjaga perlintasan kerata api tak berpalang secara sukarela menjadi cara dirinya berterima kasih kepada pemerintah yang telah mengizinkannya membangun rumah tepat di perlintasan kereta api. Selama ia menjaga pintu kereta api ini belum pernah terjadi kecelakaan apalagi merenggut korban jiwa.

“Dulu banget pernah, itu juga cuma sekali. Tapi korbannya tidak apa-apa. Alhamdulillah setelah itu nggak pernah ada lagi kejadian. Jangan sampe ada lagi, kasian,” ujarnya, seperti dilansir Merdeka, 6 September 2014.

Tubuh rentanya tak menghalangi niat tulusnya untuk menjaga perlintasan. Dalam sehari lebih dari 6 kereta penumpang termasuk kereta batu bara melintas di perlintasan tersebut. Dalam melakukan kegiatannya Masmatum tak mengenal siang ataupun malam, hingga jadwal kereta melintas pun dia sudah hafal.

“Jadwal kereta sudah hafal, jadi kalau kereta sudah dekat saya lari dari dalam (rumah) sambil teriak berhentiin mobil sama motor yang mau lewat,” tandasnya. (ph)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL