Bupati Batola memanen jeruk (foto: Antara)

Bupati Batola memanen jeruk (foto: Antara)

Batola, LiputanIslam.com–Kabupaten Barito Kuala (Batola) adalah daerah rawa namun berhasil memproduksi bahan pangan dengan sistem tumpang sari. Yakni, menanam padi bersamaan dengan jeruk. Dengan cara itu, Batola menjadi salah satu penyumbang terbesar komoditas padi dan jeruk di Kalimantan Selatan (Kalsel). Upaya ini digalakkan sejak Batola dipimpin oleh bupati H Hasanuddin Murad yang menempatkan sektor pertanian sebagai prioritas utama.

Ada 198.000 hektar lahan di Batola yang potensial untuk dikembangkan. Menurut Hasanuddin, padi yang ditanam di Batola menggunakan bibit unggul dan lokal. Sedangkan jeruk dari varietas siam Banjar. Cara bertanam jeruk siam di lahan rawa sangat berbeda dengan yang lazim dilakukan di lahan kering. ”Di lahan rawa, jeruk harus ditanam di atas tembokan agar tidak tergenang air saat permukaan air tinggi atau pasang,” katanya.

Saat ini luas kebun jeruk siam di Batola mencapai 6.815,56 hektare. Dari jumlah tersebut, pohon yang berbuah sekitar 5.914,67 hektare dengan produksi 94.944,9 ton. Hasanuddin menyebutkan, pangsa pasar jeruk tersebut sangat menjanjikan. Bahkan sampai ke Pulau Jawa.

Keunggulan jeruk Marabahan (nama ibu kota Batola) dari jeruk lokal lain seperti Jawa dan Sumatera adalah kualitas yang lebih dalam kandungan energi, kadar jus, dan betakaroten. Kualitas sensorik jeruk Marabahan juga unggul dalam rasa yang lebih manis, tekstur agak keras, dan aroma yang harum.

Dalam penyimpanan selama 14 hari, jeruk Marabahan secara umum menunjukkan peningkatan kadar serat, betakroten, mineral (Ca dan P), dan dari atribut sensorik terjadi peningkatan warna menjadi kuning dan rasa lebih manis.

Untuk meningkatkan kualitas jeruk Marabahan, setiap tahun dinas terkait melakukan kontes jeruk se-Batola. Penilaiannya meliputi kulit, warna kulit, tekstur, warna daging buah, dan jumlah biji.

Kirim Petani untuk Belajar

Kesuksesan Hasanuddin Murad menerapkan pertanian dengan cara tumpang sari antara padi dan jeruk bukan tanpa kendala. Terutama dalam pengembangan jeruk Marabahan. Salah satunya, peremajaan pohon jeruk.

Selama ini petani terkadang larut dengan keuntungan yang dihasilkan. Mereka lupa bagaimana menemukan bibit baru ketika pohon sudah tidak lagi produktif. ”Ini yang menjadi tantangan kami, bagaimana cara memotivasi petani, sehingga tak hanya menikmati hasil panennya. Tapi juga pembibitan dilakukan,” kata Hasanuddin.

Tidak jarang pemkab harus menyediakan bibit baru untuk petani sebagai pengganti pohon yang sudah tua dan tidak produktif. ”Mau bagaimana lagi, terpaksa pemerintah daerah turun tangan menyediakan bibit jeruknya,” ujar dia.

Selain peremajaan bibit, lanjut dia, untuk meningkatkan hasil jeruk Marabahan, pemerintah daerah setiap tahun mengirim kelompok tani untuk belajar ke daerah penghasil jeruk yang tersebar di seluruh Indonesia. ”Bisa ke Balikpapan atau daerah lain untuk belajar bagaimana cara mengelola dan hal lainnya dalam menanam jeruk,” tuturnya.

Tujuannya, petani dapat lebih mengetahui cara menanam jeruk dengan baik dan benar. Dengan begitu, diharapkan jeruk Marabahan dapat panen dua kali dalam setahun dan hasil produksinya semakin meningkat.(dw/antaranews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL