sawahJakarta, LiputanIslam.com — Guna terwujudnya ketahanan pangan, Jokowi-JK membuat program akan membuka lahan sawah baru seluas 1 juta hektar. Pulau Sulawesi dipilih sebagai pengganti lahan sawah di Pulau Jawa yang sudah terkonversi.

“Hampir dipastikan pembukaan lahan baru ini di Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat,” kata ekonom Megawati Institute, Iman Sugema, seperti dilansir Tempo, Rabu, 17 September 2014.

Sulawesi dipilih sebagai tempat pembukaan sawah baru karena pulau ini tepat untuk program pembukaan lahan. Masyarakat Sulawesi juga telah akrab dengan pertanian, dan dinilai memiliki semangat kerja yang mendukung.

Namun keberhasilan pembukaan sawah baru di Sulawesi sangat bergantung kepada pemerintah daerah setempat, apakah mereka mau menerima program pembukaan lahan baru ini atau tidak. Oleh sebab itu, masing-masing pemerintah daerah diminta memberikan konsep lahan yang sesuai.

Sebelumnya, pemerintah juga pernah membuka lahan baru seluas 1 juta hektare di Kalimantan Tengah. Hutan sudah ditebang habis, tapi sawahnya tidak jadi.

Lantas bagaimana tanggapan pemerintah daerah Sulawesi Selatan?

Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo bersyukur jika program pembukaan lahan sawah baru bisa dilakukan di Sulawesi Selatan. Sebab, di Sulawesi Selatan juga sudah berjalan proses pembangunan dua dam besar di Kabupaten Jeneponto dan Luwu. Diharapkan dam ini bisa dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian.

“Kami sanggup menyediakan 500 ribu hektare. Sisanya biar dibuka di daerah lain,” kata Syahrul.

Menurut Syahrul, sektor pertanian khususnya padi, masih menjadi sektor unggulan di Sulawesi Selatan. Saat ini Sulawesi Selatan berhasil memproduksi 5 juta ton gabah kering giling per tahun sehingga bisa memberi makan 21 provinsi di Indonesia. Bahkan, sejumlah negara seperti Malaysia juga sudah berminat membeli beras Sulawesi Selatan.

Hanya saja, perlu dilakukan pengembangan teknologi dalam pengolahan beras. Sebab, selama ini beras yang dihasilkan petani hanya bisa bertahan selama empat bulan di gudang penyimpanan.

“Harapan kami beras bisa bertahan satu tahun sehingga harganya tetap tinggi. Tidak menjadi beras miskin karena rusak di penyimpanan,” kata Syahrul. (ph)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL