refBerlin, LiputanIslam.com–UNICEF mengkritik kondisi pengungsi anak-anak di Jerman setelah menemukan anak-anak tersebut tidak mendapat perawatan kesehatan yang layak dan tidak bisa mengakses sekolah selama berbulan-bulan.

Pengungsi anak-anak itu telah mengalami trauma yang mendalam akibat perang dan kejahatan, maka mereka membutuhkan perlindungan istimewa, tak kurang dari anak-anak Jerman sendiri.

Direktur UNICEF Jerman, Christian Schneider, menegaskan bahwa semua anak mempunyai hak yang sama, tak peduli tempat asal, komunitas, dan status mereka.

UNICEF sebelumnya melaporkan bahwa anak-anak pengungsi tersebut telah dipaksa melakukan kejahatan dan prostitusi di Perancis.

Di bulan April, organisasi berita Jerman Funke Mediengruppe melaporkan bahwa hampir 6,000 pengungsi dari Afrika, Timur Tengah, dan Asia telah memasuki Jerman sepanjang tahun 2015. 555 diantara pengungsi itu adalah anak-anak berusia di bawah 14 tahun. Namun pemerintah Jerman tidak tahu  di mana persisnya mereka tinggal.

Agensi polisi EU, Europol, berkata lebih dari 10.000 pengungsi anak-anak tanpa pendamping telah hilang setelah memasuki Eropa selama 18-24 bulan terakhir. Beberapa parlemen Eropa berkata anak-anak itu kemungkinan adalah korban organisasi kriminal seks, perbudakan, atau perdagangan organ tubuh.

Eropa sedang berhadapan dengan arus besar pengungsi yang belum terjadi sebelumnya. Pengungsi tersebut datang dari daerah konflik seperti  Afrika dan Timur Tengah, khususnya Suriah.

Banyak yang menyalahkan pemerintah Eropakarena telah mengeluarkan kebijakan yang menyebabkan terorisme dan perang di kawasan tersebut. Karena itulah para korban perang tak punya pilihan selain pergi dari rumah mereka dan menjadi pengungsi di Eropa. (ra/presstv.ir)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL